JAKARTA — Krisis iklim tak hanya mengubah kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko bencana. Perubahan cuaca yang semakin ekstrem juga berpotensi mengganggu hubungan sosial masyarakat hingga memperburuk rasa kesepian.
Gelombang panas, banjir, badai, hingga kebakaran hutan dapat membatasi aktivitas warga di luar rumah, memutus akses komunikasi, bahkan menghancurkan ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat berkumpul masyarakat.
Fiona Doherty, asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, menilai hubungan sosial merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesejahteraan individu sekaligus ketahanan masyarakat menghadapi krisis.
Dalam penelitiannya mengenai hubungan antara krisis sosial dan lingkungan, Doherty melihat keterasingan sosial sebagai salah satu dampak krisis iklim yang perlu mendapat perhatian lebih besar.
Menurutnya, interaksi dengan orang lain bukan sekadar aktivitas sosial. Hubungan tersebut dapat membantu menjaga aktivitas otak, mengurangi stres, sekaligus memberikan dukungan ketika seseorang menghadapi kondisi sulit.
Ketika terjadi cuaca ekstrem, jaringan sosial bahkan dapat menjadi sistem peringatan dan pertolongan pertama di tingkat masyarakat.
Saat gelombang panas melanda, misalnya, tetangga dapat saling mengingatkan mengenai risiko kesehatan. Mereka juga dapat mengecek kondisi lansia atau membantu warga yang membutuhkan tempat dengan pendingin udara.
Namun, kondisi tersebut dapat berubah ketika cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Panas Ekstrem Membuat Warga Terisolasi
Suhu yang meningkat tajam membuat sebagian masyarakat memilih bertahan di dalam rumah. Aktivitas luar ruangan yang sebelumnya menjadi ruang interaksi perlahan berkurang karena kondisi lingkungan dianggap terlalu panas atau berbahaya.
Doherty menyebut seorang pekerja sosial berusia 28 tahun di kawasan pedesaan Appalachia, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa warga cenderung menghindari kegiatan masyarakat ketika suhu terlalu tinggi.
Situasi serupa dapat terjadi ketika banjir dan badai melanda. Jalan yang rusak atau tidak bisa dilalui membuat masyarakat kesulitan mengunjungi keluarga, menghadiri pertemuan, maupun mengikuti kegiatan komunitas.
Jika kondisi tersebut berlangsung berulang, kesempatan masyarakat untuk berinteraksi juga semakin terbatas.
Dampaknya menjadi lebih berat bagi warga yang sejak awal memiliki keterbatasan mobilitas, tinggal jauh dari pusat permukiman, atau tidak memiliki akses transportasi yang memadai.
Listrik dan Internet Ikut Terganggu
Ancaman terhadap hubungan sosial juga tidak selalu terlihat secara langsung.
Cuaca ekstrem dapat menyebabkan pemadaman listrik sekaligus mengganggu jaringan telepon dan internet. Padahal, komunikasi digital kini menjadi salah satu cara utama masyarakat mempertahankan hubungan dengan keluarga, teman, maupun komunitas.
Ketika jaringan komunikasi terputus, warga kehilangan akses untuk melakukan panggilan telepon, mengirim pesan, menggunakan media sosial, hingga mendapatkan informasi mengenai kondisi lingkungan.
Doherty mencatat pengalaman seorang warga pedesaan berusia 74 tahun yang mengatakan pemadaman listrik dapat membuat layanan telepon seluler ikut terputus.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Mereka bukan hanya kehilangan listrik, tetapi juga kehilangan sarana untuk terhubung dengan dunia luar.
Kelompok lansia menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami keterasingan ketika akses komunikasi dan mobilitas terganggu.
Ruang Berkumpul Bisa Hilang
Krisis iklim juga dapat menghilangkan tempat-tempat yang selama ini memiliki fungsi sosial dan budaya bagi masyarakat.
Banjir, misalnya, dapat merusak taman, lapangan, sungai, dan ruang terbuka yang biasa digunakan warga untuk berolahraga, berpiknik atau berkumpul bersama keluarga.
Doherty mencontohkan pengalaman masyarakat di Cherry Valley, New York, ketika Badai Irene dan Badai Tropis Lee melanda pada 2011.
Banjir yang terjadi merusak sebuah danau kecil yang dikenal masyarakat sebagai “the reservoir”. Sebelumnya, lokasi tersebut menjadi tempat berkumpul keluarga-keluarga di kawasan pedesaan.
Setelah rusak akibat badai, masyarakat kehilangan salah satu ruang sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kekeringan berkepanjangan juga dapat memberikan dampak serupa. Menurunnya permukaan sungai dan danau, meningkatnya risiko kebakaran hutan, serta kerusakan pertanian dapat mengganggu tradisi dan aktivitas masyarakat.
Jika ruang dan tradisi bersama menghilang, kesempatan masyarakat untuk membangun hubungan antargenerasi pun ikut berkurang.
Pusat Komunitas Jadi Benteng Sosial
Doherty mendorong pemerintah memperkuat fasilitas publik yang dapat berfungsi sebagai ruang interaksi sekaligus tempat perlindungan ketika cuaca ekstrem terjadi.
Perpustakaan dan pusat komunitas, misalnya, dapat menyediakan ruang belajar, tempat berlindung ketika suhu ekstrem, akses internet, hingga fasilitas pengisian daya saat listrik padam.
Dengan demikian, fasilitas publik tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi dampak krisis iklim.
Pada akhirnya, menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik dan memperkuat sistem penanggulangan bencana.
Jaringan sosial masyarakat juga perlu diperkuat. Sebab ketika cuaca ekstrem mulai membatasi aktivitas, memutus komunikasi, dan menghilangkan ruang berkumpul, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga hubungan antarmanusia.

