KALIMANTAN BARAT — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat terus diperkuat setelah pemantauan satelit menunjukkan masih terdapat ribuan titik panas di sejumlah wilayah.

Presiden Prabowo Subianto bahkan turun langsung melihat perkembangan penanganan karhutla dengan memimpin rapat terbatas di Posko Satgas Udara, Lanud Supadio, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026).

Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta jajaran terkait menyampaikan kondisi terbaru berdasarkan situasi di lapangan.

“Saya datang untuk melihat keadaan setempat yang nyata,” kata Prabowo saat membuka rapat.

Presiden kemudian meminta laporan mengenai perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat.

“Sekarang saya minta siapa yang bisa kasih saya presentasi tentang situasi?” ujarnya.

3.704 Titik Panas Terdeteksi

Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo memaparkan hasil pemantauan satelit dalam 24 jam terakhir.

Dari pemantauan tersebut, ditemukan 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sementara itu, sebanyak 3.100 titik panas terdeteksi dengan tingkat kepercayaan menengah dan 406 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah.

Jika digabungkan, terdapat 3.704 titik panas yang terpantau dengan berbagai tingkat kepercayaan.

Bulo mengatakan titik panas tersebut terkonsentrasi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, terutama kawasan selatan dan timur.

Untuk wilayah selatan, titik panas banyak ditemukan di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya dan Kayong Utara.

Sementara di bagian timur, titik panas terdeteksi antara lain di Kabupaten Sanggau, Sintang dan Sambas.

“Kami laporkan bahwa titik hotspot ini didominasi di wilayah Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Kayong Utara di wilayah sektor selatan. Kemudian di wilayah timur juga Kabupaten Sanggau, Sintang, dan Sambas,” jelas Bulo.

OMC Kembali Dipersiapkan

Di tengah masih tingginya jumlah titik panas, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk memanfaatkan peluang hujan guna membantu penanganan karhutla.

Berdasarkan prakiraan cuaca, sejumlah wilayah Kalimantan Barat berpotensi mengalami hujan ringan pada 21-27 Agustus 2026. Potensi hujan terutama diperkirakan terjadi di kawasan timur.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Sebelumnya, OMC telah dilakukan pada 11-18 Agustus 2026. Namun, operasi tersebut dihentikan karena kondisi atmosfer belum menyediakan awan yang cukup untuk dilakukan modifikasi.

Pemerintah kini kembali mempersiapkan OMC setelah adanya potensi pertumbuhan awan dalam beberapa hari ke depan.

“Kami sudah rapat dengan BMKG bahwa potensi awan akan terjadi pada tanggal 23-27 sehingga kami akan melaksanakan operasi modifikasi cuaca,” tutur Bulo.

Penanganan Terus Dilakukan

Pemerintah mengandalkan sejumlah strategi untuk mengendalikan karhutla, mulai dari pemantauan titik panas melalui satelit, penanganan di lapangan hingga dukungan operasi udara.

Perkembangan cuaca juga menjadi salah satu faktor yang terus dipantau untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Posko Satgas Udara menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla berjalan sesuai kondisi aktual di lapangan.

Dengan masih ditemukannya ribuan titik panas, pemerintah pusat dan daerah diminta terus memperkuat koordinasi agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.

Selain mengantisipasi penyebaran api, penanganan juga diarahkan untuk mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat dan lingkungan di Kalimantan Barat.