BERAU, IT-NEWS.ID – Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Berau yang berlangsung lebih dari 10 jam tidak hanya mengganggu penerangan dan aktivitas rumah tangga. Jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah juga ikut terdampak, sehingga warga yang mengandalkan internet untuk bekerja kesulitan menjalankan aktivitasnya.
Salah satunya dirasakan Lika, seorang wartawan di Berau. Ia mengaku kesulitan mengirimkan berita dengan cepat karena koneksi internet ikut menurun saat listrik padam.
Menurutnya, listrik menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Apalagi, perangkat komunikasi seperti telepon genggam membutuhkan daya baterai yang harus diisi ulang, sementara pekerjaan jurnalistik juga bergantung pada kestabilan jaringan internet.
“Listrik ini menjadi salah satu aspek penunjang penting di keseharian kita selain air. Jadi kalau listrik mati jelas kita resah karena bisa sewaktu-waktu matinya. Itu yang kita khawatirkan kalau pas baterai hp kita lagi lowbat kan pasti bakal ngerepotin. Dan saya jadi sulit bekerja karena jaringan down tidak bisa mengirim berita dengan cepat,” ujarnya.
Ia mengatakan pemadaman sesekali masih bisa dimaklumi selama ada kejelasan informasi dari PLN. Namun, pemadaman yang terjadi berulang kali dalam sehari dan berlangsung selama beberapa hari membuat aktivitas masyarakat semakin terganggu.
“Mungkin listrik mati kalau sesekali aja asalkan ada kejelasan dari pln oke lah, tapi kalau sudah berkali-kali dalam sehari dan terjadi berhari-hari juga jamnya yang engga ingat waktu pasti masyarakat juga jengkel,” katanya.
Lika berharap persoalan yang menyebabkan pemadaman segera diselesaikan agar pasokan listrik kembali normal. Ia juga menilai kondisi kelistrikan sepanjang tahun ini sebelumnya cukup baik sebelum pemadaman bergilir terjadi dalam sepekan terakhir.
Menanggapi gangguan yang turut berdampak pada jaringan internet tersebut, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas meminta PLN memikirkan solusi bagi masyarakat selama proses pemulihan pasokan listrik berlangsung.
Sri menyebut pemadaman yang terjadi sejak Ahad (25/10/2026) telah mengganggu pekerjaan yang bergantung pada koneksi internet, termasuk wartawan, pengemudi ojek online, dan pelaku usaha daring.
“Kalau mati lampu otomatis jaringan juga down. Ini menyangkut orang banyak, jadi saya minta PLN bantu melalui CSR-nya,” ungkapnya, Jumat (30/10/2026).
Ia meminta PLN mempertimbangkan penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis di sejumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH).
“Seperti wartawan, kirim berita pakai jaringan internet. Ojek online, jualan online, karena semua sekarang serba online,” ujarnya.
Sri mengaku belum pernah meminta alokasi CSR kepada PLN selama menjabat sebagai kepala daerah. Namun, ia berharap dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyediakan akses internet alternatif bagi masyarakat.
“Bisa tidak penggunaan CSR dimaksimalkan untuk penyediaan Wi-Fi sebagai pengganti bila terjadi pemadaman atau kejadian seperti ini” pintanya.
Ia juga meminta PLN memberikan solusi apabila perbaikan jaringan listrik membutuhkan waktu beberapa hari. Menurutnya, masyarakat perlu mendapat alternatif selama pasokan listrik belum kembali normal.
“Kalau memang kami harus menunggu beberapa hari untuk perbaikan, maka berikan kami solusi yang terbaik,” pungkasnya.

