TANJUNG SELOR – Di tengah menjamurnya kedai kopi dan tren nongkrong di kalangan anak muda, ada persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian, ke mana perginya ampas kopi yang setiap hari dihasilkan?

Bagi sebagian orang, ampas kopi hanyalah sisa seduhan yang berakhir di tempat sampah. Namun, di tangan dua generasi muda asal Bulungan, Nabila dan Anggun Neshia Prameswarie, limbah tersebut justru menjadi awal dari sebuah inovasi yang berpotensi membuka peluang ekonomi.

Keduanya mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik. Ampas kopi yang selama ini dianggap tidak berguna diolah bersama sisa sayuran melalui proses fermentasi selama empat hari. Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

“Ya, saat ini banyak kedai kopi dan ampasnya cukup banyak. Kami mencoba mengolah ampas kopi bersama sampah organik,” ungkap keduanya saat diwawancarai IT-News.id, Senin (2/11/2026).

Ide tersebut berangkat dari fenomena menjamurnya kedai kopi di Tanjung Selor dan wilayah Kalimantan Utara. Mereka melihat potensi limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Alih-alih membiarkannya menumpuk menjadi sampah, Nabila dan Anggun melihat ampas kopi sebagai bahan baku yang masih memiliki nilai guna.

Dari proses sederhana itu, keduanya mulai membangun konsep ekonomi sirkular. Sampah organik tidak langsung dibuang, melainkan diolah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi.

Inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada pengolahan ampas kopi menjadi pakan maggot. Keduanya mencoba membangun rantai pemanfaatan limbah yang saling terhubung.

Maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber pakan ikan dan unggas. Sementara itu, sisa media budidaya maggot berpotensi diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik.

Gagasan ini juga menyentuh persoalan biaya produksi peternakan dan perikanan, terutama kebutuhan pakan yang selama ini menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar.

“Maggot segar bisa menjadi pakan ikan. Dalam budidaya ikan dan unggas, sekitar 60–70 persen biaya bisa terserap untuk pakan pelet. Karena itu, kami mencoba mengembangkan maggot sebagai alternatif,” jelas keduanya.

Dengan konsep tersebut, limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual berpotensi masuk kembali ke dalam rantai produksi.

Namun, manfaat ekonomi dan efektivitas maggot sebagai alternatif pakan tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut, terutama untuk mengetahui kandungan nutrisi, keamanan, serta perbandingannya dengan pakan komersial.

Menariknya, inovasi ini tidak membutuhkan bahan dan peralatan yang rumit untuk tahap awal. Kandang budidaya dapat dibuat menggunakan kotak, jaring, serta potongan kayu bekas yang disusun sesuai kebutuhan.

Bahkan, keduanya mengaku sudah mulai mempraktikkan inovasi tersebut. Ampas kopi diperoleh dari kedai-kedai kopi, sementara sisa buah dan sayuran juga dimanfaatkan sebagai bahan organik.

Bagi Nabila dan Anggun, inovasi ini bukan sekadar karya keduanya juga membawa inovasi tersebut baru-baru ini dalam sebuah lomba inovasi yang dilakukan pemerintah provinsi, namun lomba yang diikuti tidak hanya sebatas lomba namun keduanya ingin membuktikan bahwa persoalan sampah di sekitar masyarakat dapat menjadi ruang lahirnya kreativitas dan peluang usaha.

Pengalaman berdiskusi dengan para barista di sejumlah kedai kopi juga menjadi bagian menarik dari perjalanan mereka. Respons positif dari pengelola kedai membuat keduanya semakin bersemangat mengumpulkan ampas kopi untuk diolah.

“Kendala sejauh ini tidak ada. Kami mendapatkan banyak pengalaman, terutama ketika bertemu dengan barista dan membahas ampas kopi. Mereka juga senang ketika ampas kopinya kami ambil,” tutur kedua siswi yang masih aktif bersekolah di SMAN 2 Tanjung Selor.

Inovasi tersebut bahkan telah mereka persiapkan selama kurang lebih tiga bulan untuk mengikuti kompetisi inovasi.

Meski demikian, perjalanan penelitian masih membutuhkan pengembangan. Keduanya ingin mengetahui lebih jauh bagaimana kualitas hasil fermentasi, efektivitasnya sebagai pakan maggot, hingga manfaat jangka panjang dari sisa pengolahan tersebut.

Di sinilah persoalan lain muncul. Keterbatasan fasilitas laboratorium menjadi salah satu hambatan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Guru pendampingnya, Hendrias, membenarkan bahwa fasilitas laboratorium kimia dan biologi di sekolah masih belum tersedia secara memadai.

“Kami sangat membutuhkan laboratorium untuk menindaklanjuti penelitian ampas kopi menjadi pakan maggot. Namun, tentu perlu dilihat apakah hasilnya lebih baik dibandingkan pakan yang dijual di pasaran. Ini membutuhkan penelitian lanjutan,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan fasilitas pendidikan dan penelitian, sehingga gagasan kreatif para pelajar tidak berhenti hanya karena keterbatasan sarana.

Menurutnya, hasil inovasi tersebut juga berpeluang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk mendapatkan pengujian dan pendampingan ilmiah lebih lanjut.

Sementara itu, Kabid Riset dan Inovasi Daerah Baperinda Kaltara, Mochmad, menyampaikan bahwa pembinaan terhadap generasi muda yang memiliki gagasan inovatif menjadi salah satu perhatian pihaknya.

Ia menyebut ide-ide kreatif anak muda di Kalimantan Utara perlu mendapat dukungan dan diarahkan agar dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ide dari anak muda di Kaltara ini pasti kami dukung dan bina. Ke depan, pasti akan diadopsi ke bidang pengampu yang sesuai,” jelasnya.

Terkait inovasi pengolahan ampas kopi menjadi pakan maggot, pihaknya menyatakan akan mempelajari lebih lanjut kebutuhan pengembangan dan hal-hal yang masih perlu disempurnakan.

“Inovasi ampas kopi ini akan kami tindak lanjuti ke depannya,” pungkasnya. (Lia)