BERAU – Menurunnya frekuensi penerbangan menuju Kabupaten Berau mulai berdampak pada sektor pariwisata. Vakumnya penerbangan Air Asia selama dua bulan membuat akses wisatawan menuju Berau semakin terbatas, khususnya bagi pelancong dari luar Pulau Kalimantan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengakui kondisi tersebut bukan situasi yang menguntungkan bagi sektor pariwisata yang saat ini sedang berkembang di Berau. Namun, pihaknya memilih tetap optimistis menghadapi situasi tersebut.
“Kita sih berharap penerbangan akan kembali normal ya, semua situasi. Tetapi kita tidak boleh pesimis ya,” ujarnya Selasa (19/5/2026).
Menurut Samsiah, kondisi tersebut justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan sektor pariwisata lokal, terutama dalam pengembangan desa wisata dan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Ia menilai pariwisata memiliki potensi besar menjadi sumber lapangan kerja baru bagi masyarakat di tengah ancaman berkurangnya aktivitas pertambangan di masa mendatang.
“Dengan multiplier efek pariwisata ini tentu akan membuka lapangan pekerjaan kreatif seluas-luasnya untuk masyarakat lokal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, peluang usaha yang dapat berkembang melalui sektor wisata cukup beragam, mulai dari homestay, jasa pemandu wisata, penyewaan perlengkapan, hingga usaha pendukung lainnya yang bisa dikelola masyarakat lokal.
Di tengah terbatasnya akses penerbangan, Disbudpar Berau juga mulai membidik wisatawan yang datang melalui jalur darat. Wisatawan nusantara yang tiba di Balikpapan dinilai masih berpotensi melanjutkan perjalanan menuju Berau menggunakan kendaraan darat, terutama bagi pelancong yang menyukai perjalanan petualangan.
“Kita optimis dengan wisatawan nusantara yang mungkin masih terhubung sampai ke Balikpapan, setelah Balikpapan dia bisa lewat darat ke sini, memang mungkin akhirnya pasarnya jadi orang-orang yang senang berpetualang,” jelasnya.
Perubahan akses tersebut diperkirakan akan menggeser segmentasi wisatawan menjadi wisata minat khusus. Disbudpar juga melihat peluang dari komunitas touring motor, pengguna transportasi umum, hingga penumpang kapal Pelni yang mulai kembali dilirik sebagai alternatif perjalanan menuju Berau.
“Kalaupun itu masih berlangsung, kita siap menyambut wisatawan nusantara karena tetap ada transportasi darat,” tutupnya.

