TANJUNG SELOR – Isu kemunculan Virus Hanta atau Hantavirus yang sempat ramai diperbincangkan masyarakat setelah adanya laporan seorang warga Kanada terdeteksi positif di kapal pesiar MV Hondius, turut menimbulkan kekhawatiran di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayah tersebut. Kepala Dinkes Bulungan, Imam Sunjono, menegaskan kondisi daerah masih aman, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

“Kalau di Bulungan ini kasusnya tidak ada. Kasus pertama itu terjadi di kapal pesiar, dan kami sudah melakukan deteksi dini serta meneruskan edaran dari Kementerian Kesehatan ke seluruh puskesmas,” jelas Imam, Senin (18/5).

Menurutnya, langkah antisipasi telah dilakukan sesuai prosedur penanganan penyakit menular. Dinkes bersama puskesmas telah mengaktifkan tim surveilans untuk memantau potensi penyebaran penyakit.

“Setiap penyakit menular itu sudah ada SOP-nya. Kami punya tim surveilans di puskesmas dan di dinas kesehatan untuk memantau dan merespons dengan cepat,” tambahnya.

Meski belum ada kasus, Imam mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti jalur transportasi laut. Hal ini dinilai berpotensi menjadi pintu masuk penyakit dari luar daerah.

“Kami tetap waspada di daerah dengan mobilitas tinggi, terutama transportasi laut. Tapi masyarakat tidak perlu panik, yang penting tetap waspada,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Hantavirus umumnya ditularkan melalui tikus, namun tidak semua tikus membawa virus tersebut. Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup atau tersentuh manusia.

“Tidak semua tikus berpotensi menularkan. Biasanya berasal dari lingkungan tertentu. Dan sejauh ini belum ada indikasi penyebaran ke permukiman,” ujarnya.

Selain Hantavirus, Imam mengingatkan bahwa tikus juga dapat menjadi sumber penyakit lain yang lebih umum di Indonesia, seperti leptospirosis, yang penularannya juga melalui urine tikus dan bahkan bisa lebih berbahaya.

“Tikus memang bisa membawa berbagai penyakit, seperti leptospirosis yang penularannya lewat kencing tikus. Ini justru sudah pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan harus terus diwaspadai,” katanya.

Ia menambahkan, Bulungan sendiri pernah menghadapi kasus leptospirosis, sehingga kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan hewan pengerat sudah lama menjadi perhatian Dinkes.

Secara umum, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, mual, hingga sesak napas.

Hantavirus diketahui dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama, yaitu gangguan paru-paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS) dan gangguan ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS).

“Ya meski penularan antar manusia sangat jarang, infeksinya dapat berakibat serius.

Dengan kondisi yang masih nihil kasus, Dinkes Bulungan Tegas jika kesiapsiagaan tetap dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” pungas Imam. (Lia)