BERAU, it-news.id– Nama PT Kertas Nusantara kembali menjadi perhatian publik setelah terjadinya insiden ledakan yang diduga berasal dari bekas tumpukan batu bara dan sisa kapur buangan hasil produksi di kawasan perusahaan, Kamis (30/7/2026).

Berdasarkan informasi awal dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau, lokasi kejadian berada di luar area utama pabrik, sekitar 600–700 meter dari fasilitas produksi, dan masih menunggu hasil investigasi Kementerian Lingkungan Hidup.

Terlepas dari insiden tersebut, PT Kertas Nusantara merupakan salah satu perusahaan pulp terbesar di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam industri kehutanan dan pengolahan bubur kertas nasional.

Perusahaan yang berlokasi di Mangkajang, Kampung Pilanjau, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Kiani Kertas. Perusahaan didirikan pada 1991 oleh pengusaha Bob Hasan sebagai bagian dari pengembangan industri kehutanan terpadu yang memanfaatkan bahan baku kayu dari hutan tanaman industri (HTI).

PT Kiani Kertas ini awalnya dimiliki oleh ‘Raja Hutan’ Bob Hasan. Namun, pada tahun 1990-an, perusahaan ini diambil alih negara karena dianggap tidak sehat. Dan karena alasan inilah Prabowo ingin membangkitkan perusahaan kertas tersebut.

Dia membeli Kiani Kertas senilai Rp 1,8 Triliun dan mengubahnya menjadi PT Kertas Nusantara. (Sumber CNBC Indonesia “Jejak Bisnis Prabowo, Investor IKN Berharta Rp 2,04 Triliun”).

Sejak awal beroperasi, pabrik ini dirancang sebagai salah satu fasilitas produksi pulp terbesar di Indonesia. Bahkan, perusahaan dikenal memiliki single line pulp mill atau pabrik pulp satu lini dengan kapasitas produksi yang sangat besar dan disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia untuk jenisnya.

Berdasarkan profil perusahaan yang dipublikasikan melalui LinkedIn, PT Kertas Nusantara memproduksi Bleached Hardwood Kraft Pulp (BHKP) berbahan baku kayu akasia dengan kapasitas desain mencapai 525.000 air dry metric ton (ADMT) per tahun.

Produk tersebut dipasarkan ke berbagai negara sebagai bahan baku industri kertas berkualitas tinggi. Pulp yang dihasilkan digunakan untuk memproduksi berbagai jenis kertas, mulai dari coated paper, ivory board, uncoated paper, hingga produk tissue yang membutuhkan serat berkualitas tinggi.

Perusahaan bergerak di sektor industri kertas dan produk kehutanan, berkantor pusat di Jakarta Selatan, dan memiliki spesialisasi pada produksi Bleached Acacia Kraft Pulp.

**Pernah Menjadi Andalan Industri Pulp Nasional**

Pada masa operasionalnya, PT Kiani Kertas mampu memproduksi sekitar 1.500 ADMT pulp per hari dengan waktu operasional sekitar 350 hari dalam setahun. Kapasitas tersebut menjadikan perusahaan sebagai salah satu produsen pulp terbesar di Indonesia sekaligus pemasok bahan baku industri kertas untuk pasar domestik maupun internasional.

Seluruh proses produksi didukung oleh pasokan kayu akasia yang berasal dari kawasan hutan tanaman industri di Kalimantan. Sistem tersebut menjadikan perusahaan memiliki rantai pasok yang terintegrasi mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengolahan pulp.

Mengalami Krisis Keuangan

Di balik kapasitas produksinya yang besar, perusahaan sempat menghadapi persoalan keuangan yang cukup serius. Krisis ekonomi yang terjadi pada akhir 1990-an berdampak terhadap kondisi keuangan perusahaan hingga akhirnya mengalami kredit bermasalah dengan nilai yang disebut mencapai sekitar Rp8,9 triliun.

Aset perusahaan kemudian berada di bawah pengelolaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada 2002, tagihan utang perusahaan dibeli oleh konsorsium Bank Mandiri sebelum akhirnya perusahaan diakuisisi oleh Prabowo Subianto melalui proses pembelian aset dari Bank Mandiri.

Setelah proses akuisisi tersebut, perusahaan berganti nama dari PT Kiani Kertas menjadi PT Kertas Nusantara. Perubahan nama ini menandai babak baru dalam pengelolaan perusahaan meskipun tantangan operasional masih terus dihadapi.

**Operasional Berhenti Lebih dari Satu Dekade**

Memasuki akhir 2000-an, perusahaan kembali menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga pulp di pasar dunia. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas produksi semakin menurun hingga akhirnya pabrik berhenti beroperasi secara penuh sekitar tahun 2008–2009.

Penghentian operasional berdampak terhadap ribuan pekerja. Sebagian karyawan dirumahkan, sementara berbagai persoalan ketenagakerjaan, termasuk penyelesaian hak-hak pekerja, sempat menjadi perhatian pemerintah daerah.

Selama lebih dari satu dekade, aktivitas produksi di kawasan pabrik praktis terhenti meskipun sejumlah fasilitas utama tetap dipertahankan.

**Kembali Beroperasi**

Harapan untuk menghidupkan kembali industri pulp di Berau mulai muncul pada 2024. Perusahaan melakukan sejumlah tahapan persiapan, mulai dari pemeriksaan kondisi mesin produksi, inventarisasi fasilitas pendukung, pemeliharaan infrastruktur, hingga pemanggilan kembali sebagian tenaga kerja yang sebelumnya dirumahkan.

PT Kertas Nusantara diharapkan kembali menjadi salah satu pusat produksi pulp terbesar di Indonesia sekaligus memberikan dampak terhadap peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Berau.

**Menunggu Hasil Investigasi Insiden Ledakan**

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau mengungkapkan informasi awal yang diterima dari manajemen PT Kertas Nusantara terkait insiden ledakan yang terjadi di kawasan perusahaan. Berdasarkan keterangan tersebut, lokasi ledakan berada di area bekas tumpukan batu bara dan sisa kapur buangan hasil produksi yang berjarak sekitar 600 hingga 700 meter dari area utama pabrik.

Namun, informasi tersebut masih berupa keterangan awal dari pihak perusahaan dan belum dapat dipastikan sebelum dilakukan investigasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan pihaknya belum melakukan investigasi lapangan maupun pengambilan sampel karena pengawasan dan penanganan insiden lingkungan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Setelah menerima informasi mengenai kejadian itu, DLHK Berau langsung berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur untuk menyampaikan laporan sekaligus meminta arahan terkait langkah yang dapat dilakukan.

“Begitu ada kejadian, kami langsung berkoordinasi dengan bidang pengawasan dan menghubungi DLH Provinsi. Kami sudah menyampaikan laporan, termasuk dokumentasi yang kami terima. Sampai sekarang kami masih menunggu arahan dari kementerian,” ujarnya kepada it-news.id, Kamis (30/7/2026).

Ia menambahkan, informasi mengenai lokasi ledakan diperoleh setelah berkomunikasi dengan manajemen PT Kertas Nusantara. Berdasarkan penjelasan yang diterimanya, area yang terdampak merupakan lokasi penumpukan sisa batu bara yang sudah tidak digunakan sekitar 12 tahun serta sisa kapur buangan dari proses produksi.

“Manajemen menyampaikan kepada kami bahwa yang terbakar merupakan sisa tumpukan batu bara yang sudah tidak digunakan sekitar 12 tahun serta sisa kapur buangan dari proses produksi. Informasi yang kami terima juga menyebutkan tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.