BERAU, IT-NEWS.ID – Ketua Umum Forum Muda Cendekia Merah Putih (FORDA) Berau, Mikael Sengiang, menilai kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Kabupaten Berau harus menjadi momentum untuk memperkuat keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan, kehutanan, dan pemulihan wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Mikael mengatakan, persoalan karhutla tidak cukup ditangani hanya melalui bantuan darurat. Menurut dia, perlu ada gerakan jangka panjang yang melibatkan masyarakat, komunitas, mahasiswa, hingga organisasi kepemudaan.
“Kami melihat kunjungan Menteri Kehutanan ini sebagai momentum penting. Bukan hanya soal bantuan yang datang, tetapi bagaimana setelah itu ada gerakan bersama dan anak muda juga dilibatkan,” kata Mikael Sengiang.
Ia menilai kehadiran pemerintah pusat secara langsung di Berau menunjukkan perhatian terhadap persoalan kehutanan dan kondisi masyarakat yang terdampak karhutla.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, sejumlah agenda dilakukan, mulai dari dialog bersama kelompok Perhutanan Sosial hingga perhatian terhadap masyarakat terdampak karhutla. Raffi Ahmad, Gading Marten dan Irfan Hakim juga disebut memberikan bantuan senilai Rp500 juta untuk masyarakat Berau.
Menurut Mikael, bantuan tersebut patut diapresiasi. Namun ia berharap perhatian terhadap Berau tidak berhenti pada penyaluran bantuan semata.
“Bantuan tentu sangat berarti bagi masyarakat. Tetapi setelah masa darurat lewat, kita juga harus bicara soal pencegahan, edukasi dan pemulihan. Di titik itu anak muda bisa mengambil peran,” ujarnya.
Mikael mengatakan organisasi kepemudaan dapat dilibatkan dalam kampanye pencegahan karhutla, edukasi lingkungan, kegiatan penghijauan, hingga pengawasan sosial terhadap kawasan yang rawan terbakar.
Ia juga menyoroti program Perhutanan Sosial yang menurutnya dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan generasi muda.
Program tersebut memberikan akses kelola sekitar 11.933 hektare kepada kelompok masyarakat di Berau, Kutai Timur dan Bulungan, dengan penerima manfaat mencapai 1.023 kepala keluarga.
“Perhutanan Sosial jangan hanya dilihat sebagai pemberian akses kelola. Ada ruang besar untuk edukasi, inovasi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Anak muda bisa masuk di sana, misalnya melalui teknologi, pemasaran produk, pengembangan wisata sampai kampanye pelestarian lingkungan,” kata Mikael.
Ia menilai Berau memiliki modal besar dari sisi sumber daya alam, tetapi tantangannya adalah memastikan pembangunan ekonomi tetap sejalan dengan kelestarian lingkungan.
Karena itu, menurut Mikael, kunjungan pejabat pemerintah pusat akan lebih bermakna apabila menghasilkan tindak lanjut yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Kami berharap setelah kunjungan Menteri Kehutanan ada program yang berkelanjutan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas dan anak muda harus bisa duduk bersama. Jangan sampai semangatnya hanya besar saat kunjungan, lalu setelah itu hilang,” ujarnya.
FORDA Berau, kata Mikael, siap mengambil bagian apabila ke depan terdapat ruang kolaborasi dalam kegiatan sosial, edukasi lingkungan maupun program pemberdayaan masyarakat.
“Anak muda jangan hanya menjadi penonton. Kalau ada ruang untuk ikut menjaga Berau dan membantu masyarakat, kami siap terlibat,” kata Mikael.

