TANJUNG SELOR – Suasana belajar di SD Negeri 015 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, tampak berbeda dari biasanya pada Rabu (6/5/2026). Hari ini, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, hadir langsung di tengah-tengah siswa kelas 3 untuk melihat proses belajar mengajar secara dekat.

Kunjungan tersebut menjadi momen penting untuk menyaksikan bagaimana pendidikan inklusif diterapkan di sekolah dasar. Di dalam kelas, para guru terlihat aktif mendampingi siswa satu per satu. Metode pembelajaran yang digunakan tidak sama untuk semua anak, melainkan disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan masing-masing siswa.

Dengan pendekatan ini, seluruh siswa termasuk anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dalam suasana yang nyaman dan tidak merasa tertinggal.

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penggunaan Profil Belajar Siswa (PBS). Sistem ini membantu guru memahami karakter dan kebutuhan belajar setiap anak secara lebih mendalam. Melalui data tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih fleksibel dan tepat sasaran.

Gita Kamath mengaku terkesan dengan cara guru mengajar di sekolah itu. Menurutnya, para guru mampu memahami perbedaan kemampuan siswa dan menyesuaikan metode belajar sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Pendekatan ini dinilai sebagai bentuk komitmen kuat dari Pemda dan tenaga pendidik dalam menciptakan pendidikan yang adil dan merata,” sebut Gita.

Ia juga menekankan bahwa memahami kebutuhan setiap siswa merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja sama antara Indonesia dan Australia melalui program INOVASI yang telah berjalan sejak 2017. Awalnya, program ini berfokus pada peningkatan literasi dasar, namun kini berkembang mencakup penguatan pendidikan inklusif.

Dalam pelaksanaannya, penggunaan data menjadi salah satu faktor penting. Data digunakan untuk menentukan bantuan yang tepat bagi siswa, seperti penyediaan kacamata atau dukungan lainnya. Selain itu, keterlibatan orang tua juga dinilai memiliki peran besar dalam keberhasilan pendidikan inklusif.

“Jika sistem pendidikan dirancang sesuai kebutuhan anak, maka tidak hanya akses yang meningkat, tetapi juga kualitas pembelajaran,” ujar Gita.

Sementara itu, Wakil Bupati Bulungan, Kilat, menegaskan bahwa pendidikan inklusif menjadi prioritas pemerintah daerah. Ia menyampaikan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi.

Sejak 2017, Pemkab Bulungan telah ada program INOVASI yang telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mulai dari pelatihan guru, penyediaan bahan ajar, hingga pendampingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

“Program ini juga fokus pada peningkatan kemampuan literasi, numerasi, serta pembentukan karakter siswa. Hingga kini, ratusan sekolah telah merasakan manfaatnya dengan dukungan dari berbagai sumber pendanaan, seperti APBD, dana BOS, hingga sektor swasta,” bebernya.

Lebih lanjut Kilat menambahkan, sistem pendidikan yang diterapkan di Bulungan juga terbukti tangguh saat pandemi COVID-19. Dimana Bulungan dinilai mampu mengurangi dampak kehilangan pembelajaran sekaligus mempercepat pemulihan pendidikan.

“Ke depan kami (Pemda) berencana terus mengembangkan berbagai inovasi pendidikan. Baik itu pembelajaran yang lebih fleksibel, integrasi layanan kesehatan anak, serta pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan,” tambah Kilat.

Lalu pelatihan bahasa isyarat bagi aparatur sipil negara (ASN) juga mulai diperkenalkan guna mendukung layanan publik yang lebih inklusif.

“Adanya kunker Wakil Duta Besar Australia, Jadi bukti nyata serta komitmen bersama antara Indonesia dan Australia guna membangun sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan mampu menjangkau seluruh anak, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil,” pungkasnya. (Lia)