BERAU – Persoalan parkir pengunjung RSUD dr Abdul Rivai yang meluber hingga ke luar area rumah sakit kembali menjadi perhatian. Hal tersebut disampaikan dalam rapat bersama pihak Kecamatan Tanjung Redeb dan aparat hukum, Kamis (24/9/2026).

 

Keterbatasan kapasitas parkir membuat sejumlah kendaraan pengunjung menggunakan area di luar rumah sakit, termasuk bahu jalan dan fasilitas umum di sekitar rumah sakit. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan sejumlah fasilitas di sekitar rumah sakit.

 

Salah satunya dirasakan pengurus Masjid Al-Bayyinah yang berada tepat di seberang RSUD dr Abdul Rivai. Pengurus mengeluhkan area parkir masjid yang kerap dipenuhi kendaraan pengunjung rumah sakit, bahkan sejak waktu Subuh.

 

“Kalau Subuh itu parkiran sudah penuh, bukan hanya motor, tapi mobil juga. Sekitar jam 8, mobil mobil puskesmas dari kecamatan-kecamatan juga banyak yang parkir di luar rumah sakit,” keluh pengurus Masjid Al-Bayyinah.

 

Pihak masjid berharap ada penataan yang lebih jelas di sekitar kawasan tersebut, termasuk pemasangan marka jalan sebagai pembatas area parkir.

 

“Kami berharap ada marka jalan putih sebagai pembatas, supaya jelas mana area yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk parkir,” lanjutnya.

 

Keluhan serupa disampaikan pihak SMP Negeri 2 Tanjung Redeb. Azam, perwakilan SMP Negeri 2 Tanjung Redeb, menyebut parkir kendaraan pengunjung rumah sakit turut mengganggu aktivitas sekolah, terutama saat jam masuk dan pulang siswa.

 

“Kami sangat terganggu, terutama saat jam datang dan pulang sekolah. Kendaraan yang padat membuat kondisi di sekitar sekolah rawan kecelakaan,” ujar Azam.

 

Pihak sekolah berharap lingkungan SMP Negeri 2 tidak lagi digunakan sebagai tempat parkir pengunjung rumah sakit dan meminta adanya solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.

 

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bagian Tata Usaha RSUD dr Abdul Rivai, Sarengat, S.IP, mengakui kapasitas parkir rumah sakit sebelumnya memang belum mencukupi kebutuhan pengunjung.

 

“Memang untuk parkir sebelumnya belum mencukupi. Kami sudah beberapa kali melakukan rapat dengan pihak kepolisian terkait persoalan parkir ini,” kata Sarengat.

 

Menurutnya, pihak rumah sakit juga telah menempatkan petugas parkir di bagian depan untuk membantu mengatur kendaraan pengunjung. Namun, dalam kondisi tertentu, pengaturan tersebut belum sepenuhnya berjalan maksimal karena keterbatasan jumlah petugas.

 

“Petugas parkir memang kami standby-kan di depan. Tetapi ada kondisi-kondisi tertentu yang tidak bisa teratasi, salah satunya karena keterbatasan petugas,” jelasnya.

 

Meski demikian, Sarengat menyebut kondisi parkir pada pagi hari dalam beberapa hari terakhir mulai mengalami pengurangan kepadatan dibandingkan sebelumnya.

 

Selain melakukan pengaturan, pihak rumah sakit juga menerapkan sistem pengamanan kendaraan atau soul parking. Sistem tersebut memberikan jaminan ganti rugi apabila kendaraan atau helm milik pengunjung hilang di dalam lingkungan rumah sakit dan tercatat dalam sistem pengawasan.

 

“Kalau kendaraan atau helm hilang di dalam lingkungan rumah sakit dan memang masuk serta terekam, akan kami ganti sesuai dengan taksiran harga,” ujarnya.

 

Upaya lain dilakukan dengan menambah lokasi parkir. Dalam sekitar satu minggu terakhir, pihak rumah sakit telah membuka area parkir baru di dekat Gedung Walet.

 

“Sekitar satu minggu ini kami sudah membuka parkiran di dekat Gedung Walet. Kurang lebih bisa menampung 40 mobil dan untuk motor masih cukup banyak,” ungkap Sarengat.

 

Meski sejumlah langkah telah dilakukan, Sarengat mengakui penataan parkir masih menjadi tantangan. Salah satu kendalanya adalah perilaku pengunjung yang masih memarkir kendaraan tidak sesuai dengan lokasi yang telah disediakan.

 

Dengan penambahan area parkir dan pengaturan petugas di lapangan, pihak rumah sakit terus melakukan upaya agar kendaraan pengunjung tidak lagi menggunakan bahu jalan ma