BERAU – Memasuki pertengahan tahun 2026 sekarang, roda perekonomian di Kabupaten Berau terus menunjukkan tren positif yang signifikan. Stabilitas ekonomi ini dicirikan oleh normalnya seluruh mobilitas aktivitas masyarakat serta optimalnya roda pemerintahan, yang berdampak langsung pada penguatan indikator kesejahteraan makro daerah.
Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Perekonomian Kabupaten Berau, Andi Marewangeng, mengungkapkan bahwa pergerakan ekonomi daerah pada tahun berjalan ini sudah bergerak stabil sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah daerah.
Indikator keberhasilan pembangunan manusia saat ini dinilai terus merangkak naik, yang secara linier diikuti dengan tren penurunan tingkat kemiskinan di wilayah Kabupaten Berau.
“Kalau kita melihat kondisi makro dan mikro kita saat ini, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Berau sudah berjalan cukup baik. Salah satu indikatornya bisa kita lihat dari indeks kepuasan masyarakat dan pembangunan manusia kita yang menunjukkan tingkat kemiskinan saat ini sudah mulai menurun,” ujar Andi Marewangeng saat dikonfirmasi pada Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, pemerintah daerah mengakui tetap mengedepankan pembenahan serta kewaspadaan dini pada beberapa sektor tertentu.
Salah satu instrumen utama yang saat ini diandalkan untuk menjaga ritme pertumbuhan ekonomi di tingkat kampung dan pedalaman adalah pemenuhan infrastruktur sarana dan prasarana secara berkelanjutan.
Menurut Andi, korelasi antara kapasitas fiskal daerah dan pembangunan fisik di Berau sangatlah erat. Berkaca pada tahun 2025 lalu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan postur APBD Berau sempat menembus angka puncak sekitar 5 triliun rupiah, di mana mayoritas anggaran tersebut memang dikonsentrasikan penuh untuk pembangunan sektor transportasi, sarana publik, dan gedung pelayanan.
Kabupaten Berau sendiri memiliki karakteristik geografis yang cukup menantang, dengan bentang wilayah yang terdiri atas 13 kecamatan, 100 desa atau kampung, serta 10 kelurahan. Wilayah-wilayah ini tersebar mulai dari kawasan pesisir, perkotaan, hingga daerah pedalaman yang membutuhkan aksesibilitas tinggi.
“Kabupaten Berau ini kan terdiri dari wilayah pesisir, perkotaan, hingga pedalaman. Nah, untuk mengomunikasikan pergerakan bahan pokok dan pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah ini, kuncinya ada pada ketersediaan infrastruktur dan moda transportasi yang memadai,” pungkas Andi.
Pemerintah daerah mengandalkan pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, hingga dermaga pengumpan lokal untuk mempercepat distribusi logistik. Keberadaan dermaga lokal seperti di Biduk-Biduk, Teratai, Tanjung Batu, Derawan, Maratua, Batu Putih, dan Telisayan menjadi simpul penting pembuka keterisolasian antarwilayah.
“Dengan terbangunnya dermaga-dermaga pengumpan lokal kita ini, jarak angkut logistik otomatis menjadi lebih pendek dan waktu tempuh terpotong. Dampak langsungnya, biaya transportasi bisa ditekan dan harga barang pokok menjadi jauh lebih terjangkau oleh masyarakat,” tambahnya.
Secara makro dan mikro, intervensi infrastruktur ini terbukti sukses menjaga stabilitas ekonomi daerah. Hal tersebut terlihat dari angka inflasi Kabupaten Berau yang berada di bawah rata-rata Provinsi Kalimantan Timur serta standar nasional, yakni bertahan di ambang aman pada kisaran bawah 2,5 persen.
Memasuki triwulan kedua di tahun 2026 ini, posisi inflasi diprediksi akan tetap terkendali dengan baik. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal ketat ketersediaan pasokan pangan di pasar, mulai dari komoditas beras, sayur-sayuran, hingga ikan, guna mengantisipasi fluktuasi harga menjelang Hari Raya Lebaran Haji mendatang.

