BERAU – Di tengah kerasnya persaingan mencari nafkah, seorang ibu asal Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, membuktikan bahwa perjuangan hidup tidak mengenal batas gender. Sejak Maret 2018, ia memilih menjadi pengemudi ojek online (ojol) untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan ketika pekerjaan itu masih didominasi laki-laki.
Perjalanannya bukan perkara mudah. Selain harus menghadapi persaingan yang semakin ketat, ia juga mengalami berbagai pengalaman pahit saat mengantar penumpang maupun menerima pesanan barang. Namun, tanggung jawab terhadap keluarga membuatnya tetap bertahan hingga hari ini.
Perempuan yang mengaku sebagai warga asli Berau itu mengenang masa awal kehadiran layanan Grab di wilayah tersebut. Saat itu, ia menjadi salah satu perempuan pertama yang bergabung sebagai pengemudi.
“Saya orang asli Berau, orang tua saya berasal dari Gunung Tabur. Saya masuk Grab pada Maret 2018, ketika Grab pertama kali hadir di Tarakan. Saya termasuk perempuan pertama yang bergabung,” tuturnya. (14/10/2026)
Menurutnya, antusiasme masyarakat pada masa awal operasional Grab cukup tinggi. Bahkan, pendaftaran pengemudi disebut mencapai sekitar 300 orang. Ia bersama rekan-rekannya langsung aktif menerima penumpang dengan tarif sekitar Rp7.000 untuk sekali perjalanan.
Pada awalnya, pekerjaan tersebut memberikan harapan baru. Ia dapat bekerja secara mandiri, memperoleh penghasilan, sekaligus membantu perekonomian keluarga.
Namun, seiring waktu, perjuangan itu semakin berat. Ia mengaku kerap menghadapi penolakan dari calon penumpang, terutama penumpang laki-laki, dengan alasan yang menurutnya berkaitan dengan dominasi kelompok pengemudi tertentu.
“Yang menyakitkan itu ketika kami sering ditolak mengantar penumpang laki-laki. Alasannya macam-macam. Padahal, kami juga bekerja secara profesional untuk mencari nafkah,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan pengalaman ketika sempat dikejar oleh sejumlah pengemudi laki-laki karena menerima pesanan di wilayah yang dianggap sebagai area kelompok tertentu. Situasi itu membuatnya merasa tertekan, terlebih ketika usianya masih relatif muda.
Meski demikian, ia memilih tidak menyerah. Baginya, mencari nafkah merupakan tanggung jawab yang harus dijalani, bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan hanya karena menghadapi tekanan.
Pernah Mengantar Pesanan ke Tempat Gelap
Di balik pekerjaannya yang terlihat sederhana, terdapat pengalaman-pengalaman yang membuatnya harus selalu waspada.
Ia mengingat kejadian ketika mengantar lemari ke lokasi yang berjarak sekitar tiga kilometer. Dengan ongkos sekitar Rp15.000, ia tetap menjalankan pesanan meskipun kondisi jalan saat itu belum diguyur hujan dan situasi di sekitarnya cukup sepi.
Ada pula pengalaman ketika ia mendapat pesanan pada malam Jumat sekitar pukul 22.00 Wita. Pesanan tersebut mengharuskannya mengantar seorang perempuan ke lokasi yang gelap dan menyeramkan.
“Saya pernah mengantar penumpang malam-malam ke tempat yang gelap. Ketika ditanya kenapa rumahnya berada di dekat kuburan, saya langsung gemetar. Saya baru sadar waktu itu malam Jumat. Jujur, saya ketakutan,” kenangnya.
Pengalaman lain datang ketika menerima pesanan barang tanpa keterangan yang jelas. Setelah bersedia mengantarkan pesanan dengan ongkos sekitar Rp17.000, ia baru mengetahui bahwa barang yang harus dibawanya adalah satu kotak besar berisi petai.
Meski menghadapi beragam kejadian tak terduga, ia tetap berusaha menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Bertahan Demi Keluarga, Bukan Sekadar Mengejar Penghasilan
Bagi perempuan ini, menjadi pengemudi ojol bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh uang. Ada keluarga yang harus diperjuangkan, kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, serta anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
Ia mengaku harus mengambil peran lebih besar dalam mencari nafkah ketika suaminya tidak bekerja. Kondisi itu membuatnya tidak memiliki banyak pilihan selain terus berusaha.
“Saya harus kuat. Suami tidak bekerja, jadi saya ikut mencari nafkah. Anak juga membutuhkan bantuan. Saya tidak bisa hanya berdiam diri di rumah dan bergantung kepada orang lain,” katanya.
Ia menyadari bahwa pekerjaan sebagai pengemudi ojol memiliki tantangan tersendiri. Penghasilan tidak selalu menentu. Ketika pesanan ramai, ia bisa memperoleh pendapatan lebih baik. Namun, saat sepi, ia tetap harus bertahan meskipun hanya mendapatkan dua penumpang.
Persaingan yang semakin ketat juga menjadi tantangan. Menurutnya, jumlah pengemudi terus bertambah, sementara peluang mendapatkan penumpang tidak selalu sebanding. Jika dahulu ia bisa memperoleh hingga 20 penumpang dalam kondisi tertentu, kini jumlah tersebut dirasakannya semakin sulit dicapai.
Para pengemudi juga memiliki tempat masing-masing untuk berkumpul dan menunggu pesanan, mulai dari depan pusat perbelanjaan hingga warung makan yang biasa menjadi titik penjemputan.
Namun, di tengah semua itu, ia memilih tetap bekerja.
“Saya tidak mau berpangku tangan. Selama masih bisa bekerja, saya akan terus berusaha. Saya tidak ingin hanya bergantung kepada suami, apalagi membiarkan anak-anak melihat saya menyerah menghadapi keadaan,” ujarnya.
Panas, Lelah, dan Penolakan Tak Membuatnya Mundur
Menjadi pengemudi ojol mengharuskannya menghadapi panas terik, perjalanan panjang, serta ketidakpastian pesanan setiap hari. Tak jarang, pelanggan sulit dihubungi meskipun ia sudah tiba di lokasi penjemputan atau pengantaran.
Ia pernah menunggu hampir 30 menit hanya untuk memastikan pesanan dapat diselesaikan. Dalam kondisi seperti itu, pengemudi dituntut tetap sabar dan menjaga sikap profesional.
“Kadang pelanggan ditelepon tidak mengangkat. Kami sudah menunggu lama, bahkan sampai pusing, baru mereka merespons dengan alasan yang sudah biasa. Tapi semua itu tetap kami jalani. Kami juga harus menjaga sikap dan tidak mau berpangku tangan,” tuturnya.
Baginya, pekerjaan ini mengajarkan banyak hal: kesabaran, keberanian, kemandirian, dan keteguhan hati menghadapi kehidupan.
Ia tidak menampik bahwa semakin bertambahnya usia, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Namun, selama tubuhnya masih mampu bekerja, ia ingin terus berjuang.
“Banyak orang di luar sana yang mungkin tidak memiliki kaki atau tangan untuk bekerja seperti kita. Selama saya masih diberi kemampuan, kenapa harus menyerah? Saya ingin terus berusaha dan mencari nafkah dengan cara yang baik,” katanya.
Kisah perempuan asal Gunung Tabur ini menjadi gambaran bahwa di balik perjalanan pengemudi ojek online, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh penumpang.
Ada seorang ibu yang melawan rasa takut, menahan lelah, menghadapi penolakan, dan tetap menyalakan harapan demi keluarga, Meski Umurnya sekarang sudah 63 Tahun.
Ia mungkin tidak selalu mendapatkan banyak penumpang. Ia mungkin harus pulang dengan penghasilan yang tidak seberapa. Namun, baginya, berhenti berjuang bukanlah pilihan selama masih ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Sebab, bagi seorang ibu, perjuangan bukan tentang seberapa besar penghasilan yang dibawa pulang, melainkan tentang seberapa kuat ia bertahan agar keluarganya tetap memiliki harapan untuk hari esok.(Zenn)

