Berau — PT Hutan Sanggam Berau (HSB) mulai mendorong pengembangan tanaman pertanian di kawasan hutan sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha. Salah satu komoditas yang menjadi fokus perusahaan adalah jagung, yang dinilai memiliki potensi hasil relatif cepat sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.

Direktur Utama PT Hutan Sanggam Berau, Roby Maula, mengatakan perusahaan saat ini masih berupaya menjaga pasar utama yang selama ini dijalankan bersama para mitra, khususnya di sektor kayu bulat. Namun di sisi lain, perusahaan juga mulai mengembangkan peluang usaha lain melalui penanaman komoditas pertanian.

“Yang jadi problem memang bagaimana kita mendekati pasar, terutama yang dipegang oleh teman-teman mitra kita. Itu yang tetap kita jaga,” ujarnya dalam agenda publikasi penyampaian laporan tahunan perhitungan PT Hutan Sanggam Berau tahun buku 2025 yang dirangkai dengan buka puasa bersama dan santunan anak yatim, Kamis (12/3/2026).

Roby menjelaskan, perusahaan pada tahun ini tetap berupaya mengoptimalkan sektor usaha kayu bulat, namun secara bersamaan juga mendorong percepatan pengembangan tanaman pertanian di kawasan hutan.

Langkah tersebut, kata dia, sejalan dengan keinginan para pemegang saham agar perusahaan dapat mengembangkan model usaha yang memiliki tingkat pengembalian aset (return of asset) lebih cepat.

“Kita mencoba mencari tanaman yang return of asset-nya bisa cepat kembali. Salah satunya jagung,” jelasnya.

Menurutnya, pemilihan komoditas jagung juga sejalan dengan program pemerintah di sektor ketahanan pangan, sekaligus memiliki siklus produksi yang relatif singkat dibandingkan komoditas lain.

“Jagung selain mendukung program ketahanan pangan pemerintah, juga memiliki return yang lebih cepat,” tambahnya.

Ia mencontohkan, sebelumnya telah melakukan percobaan penanaman jagung di wilayah Batu Rajang. Meski hasil panennya belum maksimal, program tersebut menjadi langkah awal bagi perusahaan dalam mengembangkan sektor pertanian di kawasan hutan.

“Memang kemarin panennya belum signifikan karena pola yang kita lakukan masih sporadis,” katanya.

Roby berharap program penanaman jagung tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan produktivitas lahan. (atrf)