Berau — Penggunaan LPG 3 kilogram kembali menjadi sorotan di tengah isu kelangkaan yang sempat terjadi. Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau menegaskan bahwa gas subsidi tersebut tidak diperuntukkan bagi seluruh masyarakat, melainkan hanya bagi kelompok tertentu yang berhak.

Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Diskoperindag Berau, Hotlan Silalahi, menekankan bahwa LPG 3 kg secara jelas ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya rumah tangga yang memang membutuhkan dan baru beralih ke penggunaan gas.

“LPG 3 kg itu tidak semua orang bisa membeli. Itu ada peruntukannya untuk masyarakat miskin. Jadi rumah tangga pun tidak semua, tapi yang memang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu untuk tidak menggunakan LPG subsidi. Sebagai gantinya, masyarakat diminta beralih ke tabung non-subsidi seperti ukuran 5,5 kilogram.

“Kalau ekonomi mapan, ya harus sadar diri. Jangan ambil yang bukan haknya,” tegasnya.

Selain rumah tangga, penggunaan LPG 3 kg oleh pelaku usaha mikro juga menjadi perhatian. Hotlan menyebut, tidak semua UMKM berhak menggunakan gas subsidi, terutama bagi usaha yang sudah berkembang dengan omzet besar.

“UMKM juga jangan membeli berulang-ulang dalam jumlah banyak. Apalagi kalau sudah beromzet besar, itu tidak tepat lagi menggunakan LPG subsidi,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi kelangkaan yang kerap dikeluhkan masyarakat bukan semata karena kurangnya pasokan atau lemahnya pengawasan, melainkan juga dipicu oleh penggunaan yang tidak tepat sasaran.

Dengan jumlah UMKM di Berau yang mencapai lebih dari 15 ribu, jika seluruhnya menggunakan LPG 3 kg secara berlebihan, maka kuota yang tersedia akan cepat habis.

“Kalau semua UMKM ambil delapan tabung per minggu, satu hari saja kuota bisa habis,” katanya.

Karena itu, ia berharap ada kesadaran kolektif dari masyarakat dan pelaku usaha untuk menggunakan LPG sesuai peruntukan. UMKM yang masih dalam tahap awal pertumbuhan diharapkan menjadi prioritas, sementara pelaku usaha yang sudah mapan diminta beralih ke gas non-subsidi.

“Harapan kita tumbuh bersama. Yang besar membantu yang kecil, yang kecil juga terus berkembang,” pungkasnya.(*)