TANJUNG REDEB – Lonjakan harga cabai rawit di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD), Tanjung Redeb, pasca-Lebaran membuat warga terpaksa mengurangi jumlah belanja kebutuhan dapur.

Harga cabai rawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram, kini sempat menembus Rp300 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat pembeli memilih membeli dalam jumlah kecil agar pengeluaran tetap terkendali.

Salah seorang warga Tanjung Redeb, Rina, mengaku cukup terkejut saat melihat harga cabai di lapak pedagang naik tajam.

“Biasanya saya beli seperempat kilo, sekarang satu ons saja sudah Rp30 ribu. Mau tidak mau harus dikurangi,” ujarnya saat ditemui di Pasar SAD, Rabu (01/04/2026).

Menurutnya, meski harga terasa sangat mahal, cabai tetap menjadi salah satu bahan utama yang sulit dihilangkan dari masakan sehari-hari.

“Kalau masak tanpa cabai rasanya kurang, jadi tetap beli walaupun sedikit,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Yuliana, warga lainnya yang ikut berbelanja di pasar. Ia mengaku sedikit terbantu karena masih memiliki tanaman cabai di halaman rumah.

“Untung ada beberapa pohon cabai di rumah, jadi bisa dipetik kalau harga di pasar lagi tinggi seperti sekarang,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat lebih cepat mengantisipasi lonjakan harga bahan pokok setelah momentum hari besar keagamaan.

“Kalau bisa pasokan tetap dijaga setelah Lebaran, jangan hanya fokus sebelum hari raya,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu pedagang sayur, Siti Rahma, menjelaskan kenaikan harga dipicu terbatasnya stok dari daerah pemasok, sementara permintaan warga masih cukup tinggi.

“Kemarin sempat Rp300 ribu per kilo karena barang sedikit sekali. Hari ini sudah turun jadi sekitar Rp200 ribu per kilo,” jelasnya.

Menurutnya, jika distribusi kembali lancar dalam beberapa hari ke depan, harga cabai berpotensi turun secara bertahap.

Pedagang berharap kondisi ini segera normal karena harga yang terlalu tinggi juga membuat pembeli menahan belanja.