BERAU, It-news.id — Kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kabupaten Berau. Lonjakan harga ini memaksa pedagang untuk mencari cara agar tetap bertahan tanpa membebani konsumen.

Salah satunya dirasakan Ida (48), pemilik toko kelontong di Berau. Ia mengaku harga plastik kresek mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Iya, plastik sekarang naik. Kemarin baru saja belanja, kalau dulu satu ikat kresek Rp40 ribu, sekarang jadi Rp60 ribu,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Tak hanya plastik, harga bahan pendukung lainnya seperti karet juga ikut mengalami kenaikan.

“Dulu karet satu bungkus Rp14.500, sekarang sudah Rp17.500,” tambahnya.

Kondisi ini membuatnya harus menyiasati penggunaan kantong plastik agar tidak berdampak pada harga barang yang dijual.

“Saya akali, kalau pembeli bisa ditenteng tidak saya kasih kresek. Daripada harus menaikkan harga barang,” katanya.

Ia pun berharap harga plastik dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani pelaku usaha kecil.

“Semoga saja harga kresek plastik ini bisa kembali seperti semula,” harapnya.

Sementara itu, pemerintah mengakui bahwa lonjakan harga plastik dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku utama, yakni nafta, yang sebagian besar masih diimpor dari Timur Tengah.

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menjelaskan bahwa kondisi geopolitik di kawasan tersebut turut memengaruhi distribusi bahan baku ke Indonesia.

“Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor. Saat ini kita sedang mencari alternatif dari negara lain,” ujarnya.

Nafta sendiri merupakan turunan minyak bumi yang digunakan dalam produksi plastik, resin, hingga karet. Gangguan pasokan ini berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi, yang kemudian dirasakan hingga ke tingkat pedagang kecil.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika global dapat berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat di daerah. Kenaikan harga bahan sederhana seperti plastik pun kini menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha kecil dalam menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan daya beli konsumen. (atrf)