BERAU – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau kini tengah memberikan perhatian ekstra terhadap titik-titik rawan banjir di wilayah perkotaan. Mengingat saat ini tengah memasuki puncak musim penghujan, pemeliharaan drainase menjadi agenda mendesak guna meminimalisir risiko genangan air yang kian menghantui warga.
Dikhawatirkan, intensitas hujan yang tinggi dapat memicu banjir luapan yang semakin marak jika sistem saluran air tidak berfungsi optimal. Oleh karena itu, DPUPR berupaya melakukan langkah preventif agar dampak cuaca ekstrem tidak melumpuhkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di Kabupaten Berau.
Keterbatasan anggaran yang tersedia pada APBD murni tahun ini memaksa DPUPR untuk melakukan skala prioritas dalam setiap pengerjaan fisik. Fokus pembangunan kini terbagi, di mana pembersihan dan normalisasi drainase menjadi prioritas utama dibandingkan pembangunan infrastruktur baru yang bersifat masif.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra, mengungkapkan bahwa rencana induk atau masterplan pembangunan drainase sebenarnya mencakup wilayah yang sangat luas. Namun, realisasi pembangunan yang merata di seluruh penjuru Berau masih harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan dana.
“Berdasarkan masterplan, memang masih banyak pengerjaan yang perlu dilaksanakan pada tahun ini. Namun, untuk saat ini kami memilah mana yang lebih prioritas untuk didahulukan agar pengerjaannya cepat dan tepat sasaran,” ujar Hendra, Kamis (30/4/2026).
Menurut Hendra, pertumbuhan kota yang pesat membawa konsekuensi logis pada beban sistem drainase. Bertambahnya kawasan pemukiman dan gedung perkantoran membuat kebutuhan akan saluran pembuangan air semakin meningkat, yang tentunya memerlukan penambahan biaya pembangunan yang cukup besar.
Dalam upaya penanganan banjir jangka pendek, DPUPR telah memetakan tiga kawasan utama yang menjadi atensi khusus. Kawasan tersebut meliputi Jalan Gatot Subroto, Jalan Murjani, hingga Jalan Durian, yang selama ini dikenal sebagai titik langganan banjir saat hujan deras mengguyur.
“Untuk sekarang pengerjaan kami fokuskan pada kawasan itu karena frekuensi banjirnya yang masih sering terjadi. Penanganan yang dilakukan meliputi aspek pemeliharaan rutin serta pembersihan dari sedimen dan sampah,” tambah Hendra menjelaskan detail pengerjaan di lapangan.
Selain pembersihan rutin, Hendra juga menyoroti perlunya inovasi infrastruktur tambahan untuk menunjang sistem drainase yang ada. Ia menyarankan perlunya pembangunan kolam detensi sebagai bak penampungan air sementara guna menahan laju air sebelum dialirkan ke sungai utama.
Langkah teknis ini diharapkan dapat menekan volume air yang meluap hingga ke permukaan jalan raya. Pihak DPUPR berkomitmen untuk terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan bahwa meskipun anggaran terbatas, upaya perlindungan masyarakat dari bencana banjir tetap menjadi prioritas pelayanan publik. (akti)

