TANJUNG SELOR – Di tengah gaya hidup serba praktis dan ketergantungan pada plastik, seorang anak muda di Tanjung Selor memilih jalan berbeda. Vivy Rorimpandey (26), justru menghadirkan ruang kreatif sekaligus gerakan kecil untuk perubahan lingkungan melalui seni tembikar.
Perempuan kelahiran 14 Oktober 1999 ini mendirikan studio pembuatan keramik atau pottery yang disebutnya sebagai yang pertama di Kalimantan Utara. Lewat tempat ini, ia tidak hanya menawarkan aktivitas kreatif, tetapi juga mengajak masyarakat perlahan mengurangi penggunaan plastik.
“Buat masyarakat Tanjung Selor, ini bisa jadi pengalaman baru. Di sini kita bisa belajar bikin gelas sendiri, sekaligus pelan-pelan mengurangi penggunaan plastik dengan beralih ke keramik,” ujar Vivy saat ditemui belum lama ini.
Studio yang berlokasi di Jalan Sabanar Lama itu kini menjadi ruang belajar sekaligus tempat bermain. Pengunjung dari berbagai usia mulai anak-anak hingga orang dewasa datang untuk merasakan langsung membuat gelas, mangkuk, hingga kerajinan lain dari tanah liat.
Dalam waktu kurang dari 1 bulan sejak dibuka, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Lebih dari 50 pelanggan telah mencoba pengalaman tersebut, dengan puluhan karya berhasil dihasilkan setiap bulannya.
“Serunya di sini bukan cuma bikin kerajinan, tapi juga jadi tempat belajar. Anak-anak bisa melatih motorik, orang dewasa bisa refreshing tanpa gadget,” katanya.
Ide ini berawal dari hal sederhana. Saat pandemi, Vivy terinspirasi setelah melihat idol K-pop favoritnya, Rose dan Jisoo, mencoba membuat tembikar di studio. Rasa penasaran itu membawanya mencari tahu, hingga akhirnya menemukan bahwa tren pottery sudah berkembang di Indonesia.
Ketertarikannya semakin kuat saat ia melihat penggunaan gelas keramik buatan pengrajin lokal di salah satu kafenya. Dari situlah muncul ide untuk menghadirkan pengalaman serupa di kampung halamannya.
“Awalnya dari hobi dan rasa penasaran. Tapi saya pikir, kenapa tidak sekalian dibuat jadi sesuatu yang bermanfaat? Bisa jadi tempat belajar, sekaligus bantu kurangi sampah plastik,” jelasnya.
Dengan biaya sekitar Rp70 ribu untuk sesi membuat tembikar dan Rp40 ribu untuk tahap pewarnaan serta dekorasi, pengunjung bisa membawa pulang hasil karyanya sendiri setelah melalui proses pembakaran.
Tak hanya masyarakat umum, sejumlah guru juga mulai melirik konsep ini sebagai kegiatan edukatif bagi siswa. Vivy pun membuka peluang untuk kolaborasi dengan sekolah-sekolah.
Meski membutuhkan modal puluhan juta rupiah untuk peralatan dan operasional, Vivy melihat ini sebagai investasi jangka panjang bukan sekadar bisnis, tetapi juga gerakan sosial kecil.
“Harapannya, ini bisa jadi ruang belajar yang menyenangkan. Kita tidak harus langsung berhenti pakai plastik, tapi bisa mulai pelan-pelan dari hal kecil,” tutupnya. (Lia)

