TANJUNG SELOR – Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, semangat dan keberanian Rezha Abinaya sudah melesat jauh melampaui anak-anak seusianya. Siswa kelas 4 di SDIT Tanjung Selor yang lahir di Jawa Timur pada 2015 itu kini dikenal sebagai salah satu pembalap cilik berbakat asal Kalimantan Utara yang mulai menorehkan prestasi di berbagai ajang balap nasional.

Perjalanan Rezha menuju lintasan balap ternyata berawal dari hal sederhana. Bukan dari sirkuit megah atau motor mahal, melainkan dari kebiasaannya bermain sepeda di halaman rumah sang nenek. Dari situlah sang ayah melihat bakat dan keberanian yang berbeda pada diri putranya.

“Awalnya hanya hobi naik sepeda di rumah neneknya. Tapi saya lihat dia punya keberanian dan keseimbangan yang bagus. Dari situ saya coba arahkan ke balap,” ujar sang ayah, Andi Mahadir.

Dengan kemampuan seadanya, keluarga Rezha mulai mendukung mimpinya sedikit demi sedikit. Baju balap bekas menjadi perlengkapan pertama yang dipakai Rezha untuk latihan awal. Namun keterbatasan itu tidak menghalangi langkahnya.

Siapa sangka, debut pertamanya di dunia balap langsung menghadirkan kejutan. Pada tahun 2024, Rezha berhasil meraih Juara 1 kelas Mini GP 50 CC dalam ajang Kejurnas pertamanya. Kemenangan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia balap motor.

Setelah itu, sederet prestasi mulai dikumpulkannya. Pada 2024, ia kembali meraih Juara 1 Kejurprov Mini GP di Berau serta Juara 1 Borneo Championship Bulungan. Memasuki tahun 2025, Rezha mulai naik kelas ke kategori bebek 4 tak 150 CC beginner usia 9–14 tahun.

Di ajang Kejurnas Bulungan, ia sukses finis Juara 3 pada race pertama dan Juara 2 di race kedua. Sementara di Grand Final Kejurnas Paser, ia kembali tampil kompetitif dengan meraih Juara 2 race pertama dan posisi keempat di race kedua.

Prestasi lainnya juga diraih pada Piala Bupati dengan merebut Juara 1 kelas beginner. Sedangkan di Kejurnas Motoprix Kalimantan Barat, Rezha sempat berada di posisi empat sebelum mengalami crash pada race kedua. Di ajang Paser Cup, ia finis di posisi empat race pertama.

Meski usianya masih sangat muda, Rezha sudah memiliki target besar dalam karier balapnya. Ia mengaku ingin terus berkembang hingga mampu menjadi juara di level internasional.

“Ya saya ikut balapan ini karena dorongan ayah saya, dan saya juga suka. Target saya Juli nanti di Kejurnas Motoprix bisa juara satu,” ucap Rezha dengan penuh percaya diri.

Di balik keberhasilannya, ada latihan keras yang harus dijalani. Rezha mengungkapkan dirinya rutin mengikuti pelatihan khusus selama beberapa minggu bersama pelatih Rudi Salim di Samarinda baru-baru ini.

“Sebelum event di Kalbar saya ikuti latihan dengan berlatih keras, mulai fisik sampai kemampuan membawa motor. Rutin latihan itu penting,” katanya.

Selain sang ayah, Rezha juga memiliki sosok pembalap idola yang memotivasinya untuk terus berkembang, yakni Fahmi Basam asal Sulawesi Barat.

“Papa yang menyuruh saya ikut balap karena sering nonton event balap. Saya juga mengidolakan Fahmi Basam,” ungkapnya.

Selama dua tahun menekuni dunia balap, Rezha mulai memahami bahwa menjadi pembalap bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari fisik, mental, hingga persoalan teknis motor di lintasan.

“Kadang ada kendala mesin motor berebet, itu jadi tantangan juga. Tapi saya optimis terus balapan,” ujarnya.

Dukungan besar juga datang dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Pada tahun 2026, Rezha mendapat bantuan uang pembinaan sebesar Rp50 juta untuk mendukung karier balapnya.

“Tahun 2026 pemerintah provinsi mendukung saya dengan uang pembinaan Rp50 juta. Dana itu dipakai untuk menyewa motor karena kami belum punya tim,” jelas Rezha didampingi ayahnya.

Baginya, dukungan tersebut menjadi tambahan semangat untuk terus berprestasi dan membawa nama Kalimantan Utara semakin dikenal di dunia balap.

“Saya targetkan bisa ikut event sampai tingkat Asia. Caranya harus banyak latihan, terutama fisik,” katanya.

Kini Rezha terus berlatih bersama orang tua dan tim sekolah balap 88 Racing Team. Di tengah mimpinya menjadi pembalap besar, ia juga menyampaikan pesan penting bagi anak-anak seusianya agar tidak menyalurkan hobi balap di jalanan.

“Jangan balap liar. Salurkan hobi kalian di sirkuit, karena sensasinya dapat dan hadiahnya juga dapat,” tutup anak kecil yang akrab di sapa Eza itu. (Lia)