BERAU – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau terus mendorong penerbitan buku-buku berkonten lokal sebagai upaya memperkaya koleksi deposit dan literasi daerah.
Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Berau, Arliana, mengatakan pihaknya memang membuka ruang fasilitasi bagi penulis, namun prioritas diberikan untuk karya yang mengangkat budaya, sejarah, bahasa, hingga kehidupan masyarakat Berau.
Menurutnya, selama ini banyak penulis yang mengajukan novel untuk difasilitasi masuk ke perpustakaan daerah. Namun Dispusip lebih memfokuskan dukungan pada buku bertema lokal yang dinilai masih minim tersedia.
“Kalau novel kan sudah banyak. Yang kita kekurangan justru buku-buku konten lokal Berau, terutama tentang budaya dan sejarah Berau,” ujarnya pada Kamis (14/05/2026).
Ia menyebut beberapa karya yang telah dibantu penerbitannya antara lain 20 Karya terbaik tentang Berau, Antologi Pantun Barrau , Kamus Bahasa Barrau, Sanni Mamanda, Susuran Bua Kalumbun, Issi Ruma dan Issi Tana, Syair Badiwa hingga kumpulan puisi karya Saprudin Ithur yang menggambarkan alam Kabupaten Berau dan Kumpulan Puisi Labuan Cermin Karya Yuli Eka Sari tentang budaya masyarakat dan Wisata Berau.
Dispusip juga sempat membukukan hasil karya peserta pelatihan menulis (Klub Penulis Cilik) yang berjudul Makna diantara Sejumput Cerita Anak di Bumi Batiwakkal, menceritakan pengalaman sehari-harinya di Kabupaten Berau, seperti wisata lokal, pengalamannya disekolah hingga kegiatan Pasar Ramadan
Arliana mengatakan karya berbentuk cerita seperti itu menjadi cara menarik untuk mengenalkan daerah kepada generasi muda. Tahun ini, pihaknya juga penerbitan buku tentang sejarah Berau berjudul Burakat Banua, namun karena keterbatasan anggaran jumlah cetak penerbitan masih terbatas.
“Kadang dalam satu tahun hanya dua buku, bahkan tahun ini baru satu judul dengan 80 eksemplar,” Ungkapnya pada Kamis (14/05/2026).
Ia menjelaskan, setiap buku yang dicetak biasanya minimal 50 eksemplar dan dibagikan ke Perpustakaan sekolah-sekolah /Perpustakaan Kampung/ khusus maupun komunitas literasi.
Dispusip juga menghadapi kendala keterbatasan Anggaran sehingga pencetakan jumlah buku salah satunya Kamus Bahasa Barrau, dimana saat ini Bahasa Barrau sudah masuk dalam materi pembelajaran sekolah (mulok)
“Mestinya kalau bahasa daerah sudah masuk pembelajaran, sarana pendukung seperti Kamus Bahasa Barrau juga diperbanyak sehingga bisa dibagikan ke seluruh Perpustakaan Sekolah yang ada di Kabupaten Berau,” ujarnya.
Untuk biaya penerbitan, Arliana menyebut harga satu buku berkisar Rp80 ribu per eksemplar, sementara jumlah judul yang diterbitkan tetap menyesuaikan kemampuan anggaran yang diterima setiap tahunnya.

