BERAU – Kesadaran sebagian masyarakat Kabupaten Berau terhadap kebersihan lingkungan tampaknya masih menjadi persoalan rumit yang belum kunjung usai. Kawasan Jalan Padat Karya kini menjadi sorotan tajam akibat tumpukan sampah liar yang kerap menumpuk di pinggir jalan, memicu aroma tak sedap serta merusak estetika kota.
Kondisi ini dikeluhkan oleh pengguna jalan dan warga sekitar yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut. Pasalnya, volume sampah yang terus meningkat mencerminkan rendahnya kepedulian lingkungan, sekaligus menunjukkan lemahnya pengawasan dari instansi terkait di area yang bukan peruntukan tempat pembuangan.
Keluhan serupa juga datang dari warga sekitar Jalan Murjani 3 yang setiap hari memanfaatkan jalur tersebut untuk beraktivitas. Salah seorang warga, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat terganggu dengan pemandangan kumuh tersebut saat hendak berangkat kerja.
“Kalau mengganggu secara pribadi sih enggak terlalu gimana-gimana ya, cuman kan saya selalu lewat situ bolak-balik karena jalur arah ke tempat kerjaan saya. Ya, kadang sampahnya itu bukan di pinggir aja, kadang sampai ke tengah jalan, Mas. Kalau saya lihat sih bukan sampah dapur aja, tapi ada popok bayi juga, kan jorok aja dilihat,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Ia menduga, berserakannya sampah hingga ke badan jalan dipicu oleh hewan liar yang mencari makan di tumpukan tersebut. Kondisi ini dinilai membahayakan dan mengganggu kenyamanan para pengguna jalan yang melintas.
“Nah, kemungkinan sih kalau sampahnya bisa sampai ke tengah jalan itu biasanya diseret-seret sama anjing, Mas. Kalau yang buang (sampah) sih saya kurang tahu, karena saya cuma sering lewat aja kan jalur kerja itu tadi,” lanjutnya.
Sebagai masyarakat yang rutin melintasi kawasan tersebut, ia berharap pemerintah atau instansi terkait segera memfasilitasi tempat pembuangan yang layak agar sampah tidak lagi berserakan ke mana-mana.
“Kalau harapan sih, karena saya pengguna jalan di situ, mungkin dibuatkan aja ya tempatnya (TPS), Mas. Biar enggak ke mana-mana sampah sama baunya itu,” pungkasnya berharap.
Meski pelanggaran ini terjadi berulang kali, belum ada tindakan nyata berupa sanksi tegas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) maupun pihak berwenang lainnya. Ketiadaan penegakan aturan yang kaku dinilai menjadi pemicu utama mengapa para pembuang sampah sembarangan tidak pernah kapok.
Warga menilai, tanpa adanya efek jera seperti denda atau sanksi sosial yang diterapkan secara konsisten, imbauan tertulis maupun lisan hanya akan dianggap angin lalu. Jalan Padat Karya pun berpotensi menjadi kumuh jika pembiaran ini terus berlanjut tanpa langkah yang pasti.
Menanggapi persoalan yang terus berulang ini, Kepala Bidang Kebersihan DLHK Berau, Irwadi, angkat bicara. Ia menyayangkan sikap sebagian warga yang dinilai masih menutup mata terhadap kebersihan ruang publik di Bumi Batiwakkal.
“Sangat disayangkan masih ada sebagian masyarakat yang masih kurang peduli terhadap kebersihan kota. Kami mengimbau masyarakat untuk patuh membuang sampah ke TPS terdekat,” ujar Irwadi saat dikonfirmasi.
Sebagai langkah jangka pendek untuk mengatasi tumpukan yang kian mengganggu estetika dan kesehatan tersebut, pihak DLHK berjanji akan segera menerjunkan armada kebersihan ke lokasi. Langkah ini diharapkan dapat menetralisir bau menyengat yang dikeluhkan warga Jalan Padat Karya dalam beberapa hari terakhir.
“Kami akan lakukan pembersihan dan pengangkutan segera,” tambah Irwadi menegaskan komitmen penanganan cepat dari tim lapangan.
Di sisi lain, Irwadi juga tidak menampik adanya faktor fasilitas yang memicu terjadinya penumpukan sampah liar tersebut. Pihaknya berencana menggandeng otoritas wilayah setempat untuk mencari solusi spasial agar warga tidak lagi memiliki alasan membuang sampah di sembarang tempat.
“Bisa jadi karena keterbatasan TPS di sekitar tempat tinggal mereka. Kami akan berkoordinasi dengan kelurahan untuk membahas lokasi titik armroll,” pungkasnya.

