KUTAI TIMUR — Video seekor induk orang utan bersama bayinya yang tampak sangat kurus melintas di jalan hauling tambang batu bara kembali viral di media sosial. Satwa endemik Kalimantan itu diketahui sempat ditemukan dalam kondisi malnutrisi dan dehidrasi di kawasan tambang batu bara di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.

Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), lokasi penemuan berada di lanskap Karaitan, tepatnya di perbatasan konsesi tambang milik PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim.

Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai habitat orang utan liar. Namun, bentang hutannya kini disebut semakin terfragmentasi akibat aktivitas pertambangan, perkebunan sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI), hingga menyisakan kantong-kantong hutan kecil yang saling terpisah.

Manajer Pusat Rehabilitasi Centre for Orangutan Protection, Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan induk orang utan bernama Mauliyan bersama anaknya Ariandi dalam kondisi memprihatinkan di area yang telah berubah menjadi kawasan tambang.

“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” ujar Widi, Selasa(26/5/2026).

Menurutnya, Mauliyan mengalami malnutrisi berat dengan skor tubuh di bawah dua dari skala maksimal lima. Tulang tubuhnya terlihat jelas dan kulitnya sangat kering, sementara ia masih menyusui Ariandi yang saat itu diperkirakan berusia sekitar tiga tahun.

“Body score Mauliyan saat itu di bawah dua dari nilai maksimal lima. Tulangnya terlihat jelas, kulitnya sangat kering, dan dia masih menyusui anaknya,” katanya.

Kondisi tersebut membuat tim rescue memutuskan melakukan evakuasi ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance milik COP di Kabupaten Berau.

Saat pemeriksaan awal, produksi ASI Mauliyan disebut sangat sedikit akibat kondisi tubuh yang lemah dan kekurangan nutrisi.

“Ketika diperiksa saat evakuasi, ASI yang keluar sangat sedikit. Padahal Ariandi masih membutuhkan perawatan dari induknya,” ungkap Widi.

Beberapa hari setelah tiba di pusat rehabilitasi, kondisi Mauliyan kembali menurun. Tim medis menyebut induk orang utan itu mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah akibat malnutrisi dan aktivitas menyusui.

“Setelah lima hari di klinik, kondisi fisiknya drop dan dia didiagnosis mengalami hipoglikemia sehingga harus mendapatkan penanganan suportif,” jelasnya.

Paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengatakan Mauliyan bahkan sempat pingsan akibat kondisi fisiknya yang sangat lemah. Tim medis kemudian memberikan terapi cairan, tambahan madu, gula, serta nutrisi khusus untuk membantu pemulihan.

“Mauliyan sempat pingsan dari pagi sampai siang dan kami melakukan terapi cairan serta tambahan madu dan gula untuk membantu pemulihan,” ujarnya.

Selama rehabilitasi, Mauliyan mendapat perlakuan khusus berupa tambahan porsi makan dua kali lebih banyak dibanding orang utan lain. Ia juga rutin diberikan alpukat, susu kedelai, hingga cairan elektrolit.

Hasilnya, berat badan Mauliyan meningkat drastis dari hanya sekitar 19 kilogram menjadi 34 kilogram saat akan dilepasliarkan kembali pada Maret 2024.

“Berat badannya meningkat signifikan, kondisi kulit membaik, rambut mulai tumbuh kembali, dan perilaku liarnya tetap terjaga,” kata Hanifah.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, membenarkan bahwa dua individu orang utan tersebut dievakuasi dari kawasan tambang batu bara di Kutai Timur pada 2023 lalu.

“Dua individu orang utan itu mengalami malnutrisi sehingga perlu dilakukan peningkatan nutrisi dan pemulihan kesehatan,” ujarnya.

Menurut Ari, proses rehabilitasi lebih difokuskan pada pemulihan kesehatan karena perilaku liar Mauliyan dan Ariandi masih sangat baik.

Setelah kondisi keduanya dinyatakan pulih, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan kembali ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, pada Maret 2024 dan hingga kini masih dalam pemantauan tim konservasi.