KUTAI KARTANEGARA – Kemeriahan pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-16 tingkat Kecamatan Anggana di Desa Sungai Mariam tidak hanya diwarnai lantunan ayat suci Al Quran dan parade kafilah. Ribuan masyarakat yang memadati arena pembukaan juga disuguhkan drama kolosal yang mengangkat sejarah lahirnya Desa Sungai Mariam, sebuah pertunjukan yang sukses memadukan nilai budaya, sejarah, dan syiar Islam.

 

Sebagai tuan rumah penyelenggara, Pemerintah Desa Sungai Mariam menghadirkan konsep berbeda dibanding pelaksanaan MTQ sebelumnya. Melalui pertunjukan teater, masyarakat diajak mengenal perjalanan sejarah desa, mulai dari masuknya jalur perdagangan dari Tiongkok hingga kisah sosok perempuan bernama Mariam yang diyakini menjadi bagian dari lahirnya nama Desa Sungai Mariam.

 

Pertunjukan yang menjadi puncak seremoni pembukaan itu mendapat sambutan meriah. Ribuan warga tampak larut menyaksikan setiap adegan yang diperankan para pemain lokal. Tidak sedikit penonton yang mengaku baru mengetahui sejarah berdirinya desa setelah menyaksikan drama tersebut.

 

Pembukaan MTQ ke-16 juga diikuti delapan kafilah dari seluruh desa di Kecamatan Anggana. Kehadiran para peserta menambah semarak pelaksanaan ajang tahunan yang menjadi wadah pembinaan generasi Qurani sekaligus mempererat silaturahmi antarmasyarakat.

 

Kepala Desa Sungai Mariam, Indra Lesmana, mengatakan konsep yang diusung sengaja dirancang agar MTQ tidak hanya menjadi ajang perlombaan membaca Al Quran, tetapi juga menjadi media edukasi tentang sejarah dan identitas daerah.

 

Menurutnya, generasi muda perlu mengenal asal-usul desanya agar memiliki rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya yang dimiliki.

 

“Kami ingin pembukaan MTQ kali ini berbeda. Selain menyemarakkan syiar Islam, kami juga ingin memperkenalkan sejarah Desa Sungai Mariam melalui pertunjukan budaya. Harapannya masyarakat, khususnya anak-anak muda, semakin memahami bagaimana desa ini berdiri dan menghargai perjuangan para pendahulu,” ujar Indra Lesmana. Selasa (28/7/2026)

 

Ia menambahkan, unsur budaya dan sejarah sengaja dipadukan dalam pembukaan MTQ karena keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sungai Mariam.

 

Menurut Indra, pelestarian sejarah lokal harus terus dilakukan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

 

Salah seorang warga Sungai Mariam, Ardi, mengaku terkesan dengan konsep pembukaan MTQ tahun ini. Ia menilai drama kolosal yang ditampilkan bukan hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengetahuan baru mengenai sejarah desa yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.

 

“Saya baru tahu cerita awal berdirinya Desa Sungai Mariam setelah melihat pertunjukan ini. Ceritanya sangat menyentuh dan membuat kami semakin bangga menjadi warga Sungai Mariam. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan,” katanya.

 

Menurut Ardi, penyampaian sejarah melalui pertunjukan teater lebih mudah dipahami oleh masyarakat dibanding hanya melalui cerita atau tulisan.

 

Ia berharap konsep yang memadukan syiar Islam dengan pelestarian budaya lokal dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan.

 

Melalui pembukaan yang sarat nilai sejarah tersebut, MTQ ke-16 tingkat Kecamatan Anggana tidak hanya menjadi ajang mencari qari dan qariah terbaik, tetapi juga menjadi momentum memperkuat identitas budaya, mengenang perjalanan panjang Desa Sungai Mariam, serta menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap sejarah daerahnya.