SAMARINDA — Warga Kota Samarinda diminta kembali meningkatkan kewaspadaan menyusul memburuknya kualitas udara pada Rabu (16/9/2026) sore.
Pemantauan menunjukkan konsentrasi partikel halus atau PM2.5 mencapai 210,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) sekitar pukul 16.00 Wita.
Kondisi tersebut menempatkan kualitas udara Samarinda dalam kategori sangat tidak sehat. Lonjakan konsentrasi PM2.5 juga terlihat dalam grafik pemantauan selama 24 jam terakhir, terutama pada sore hari.
Ketua Info Taruna Samarinda (ITS) Joko Iswanto alias Jokis meminta masyarakat membatasi kegiatan di luar rumah, terutama aktivitas yang membutuhkan tenaga fisik cukup berat.
“Dengan kondisi kualitas udara seperti ini, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Kalau tidak ada kepentingan mendesak, lebih baik beraktivitas di dalam rumah sambil memantau perkembangan kualitas udara,” ujar Jokis.
Menurut Jokis, paparan partikel halus dalam kondisi udara yang buruk dapat memengaruhi saluran pernapasan. Sejumlah keluhan yang mungkin muncul di antaranya iritasi tenggorokan, batuk hingga sesak napas.
Karena itu, warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel berukuran kecil.
Masker jenis N95 maupun KF94 dapat digunakan dengan catatan harus terpasang rapat sehingga menutupi hidung dan mulut secara baik.
“Kalau memang harus keluar, gunakan masker yang bisa menyaring partikel kecil dan pastikan terpasang dengan benar. Masker juga perlu diganti secara berkala,” katanya.
Upaya perlindungan juga dapat dilakukan dari dalam rumah. Warga disarankan menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya udara dari luar ketika kualitas udara sedang buruk.
Bagi masyarakat yang memiliki air purifier dengan filter HEPA, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Jika masker N95 atau KF94 tidak tersedia, masker bedah masih dapat digunakan sebagai alternatif. Penggunaan dua lapis masker juga bisa menjadi pilihan untuk memberikan perlindungan tambahan.
Meski demikian, Jokis mengingatkan masyarakat tidak perlu panik menghadapi kondisi tersebut.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah membatasi paparan dan menjaga kondisi kesehatan selama kualitas udara masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.
“Tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan jaga kesehatan. Kurangi aktivitas di luar, khususnya kegiatan berat, serta berikan perhatian lebih kepada anak-anak dan keluarga agar tidak terlalu banyak terpapar udara yang tidak sehat,” pungkas Jokis.

