SAMARINDA — Kemarau panjang mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah fasilitas di Kota Samarinda, termasuk Sekolah Rakyat (SR) Palaran. Jumat(11/9/2026)

 

Sekitar 520 siswa yang tinggal di asrama sekolah tersebut kini harus menghadapi keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Penurunan debit Sungai Mahakam menjadi salah satu persoalan. Di sisi lain, operasional intake PDAM harus dilakukan dengan sistem buka-tutup untuk mencegah masuknya intrusi air laut.

 

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan air ke Sekolah Rakyat Palaran ikut terdampak.

 

Kepala Sekolah Rakyat Samarinda 2, Fahrijal, mengatakan gangguan pasokan air bersih mulai terasa cukup parah dalam tiga hari terakhir.

 

“Sudah tiga hari terakhir ini pasokan air cukup terbatas. Padahal kebutuhan ideal sekolah dan asrama sekitar 30.000 liter per hari,” ujar Fahrijal.

 

Menurut dia, kondisi tersebut membuat sekolah harus melakukan sejumlah langkah penghematan.

 

“Kami harus melakukan efisiensi penggunaan air karena cadangan yang ada terus menipis,” katanya.

 

Salah satu langkah yang dilakukan adalah membatasi penggunaan kamar mandi.

 

Fasilitas kamar mandi di lantai dua sementara dialihkan dan penggunaan difokuskan di lantai dasar.

 

Jatah dan durasi penggunaan air untuk mandi siswa juga dibatasi.

 

Aktivitas mencuci pakaian secara mandiri turut dihentikan.

 

Untuk siswa SD, pakaian mereka dialihkan ke jasa laundry di luar sekolah. Sementara kegiatan mencuci pakaian siswa SMP dan SMA ditangguhkan sementara.

 

Air bersih PDAM juga tidak lagi digunakan untuk seluruh aktivitas kebersihan.

 

Petugas cleaning service menggunakan air dari danau sekitar untuk membersihkan lantai dan sejumlah fasilitas umum.

 

“Air PDAM kami prioritaskan untuk kebutuhan yang benar-benar penting, terutama untuk kebutuhan anak-anak,” ujar Fahrijal.

 

Kondisi tersebut kemudian membuat pihak sekolah mengambil keputusan untuk memulangkan sementara siswa jenjang SMA.

 

“Siswa SMA kami pulangkan sementara mulai weekend ini,” kata Fahrijal.

 

Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan masa libur pembelajaran sekaligus kondisi kebutuhan air para siswa.

 

“**Pertimbangannya, selain libur pembelajaran, juga demi kemanusiaan karena siswi putri yang sedang halangan membutuhkan konsumsi air lebih,**” ujarnya.

 

Sementara itu, siswa jenjang SD dan SMP masih tinggal di asrama.

 

Mereka memanfaatkan sisa air di tandon dan pasokan darurat yang dikirim menggunakan armada tangki.

 

Fahrijal mengatakan pemulangan siswa juga harus memperhatikan arahan Kementerian Sosial.

 

Menurut dia, kondisi rumah orang tua siswa harus dipastikan memiliki ketersediaan air yang lebih baik dibandingkan fasilitas asrama.

 

“**Jadi bukan hanya soal memulangkan anak, tetapi harus dipastikan kebutuhan air di rumah orang tua mereka lebih baik,**” jelasnya.

 

 

 

TNI Siapkan Bantuan Air

 

Kondisi krisis air tersebut mendapat perhatian dari TNI.

 

Komandan Korem 091/ASN, Brigjen TNI Anggara Sitompul, meninjau langsung Sekolah Rakyat Palaran.

 

Anggara memastikan TNI siap membantu memenuhi kebutuhan air bersih bagi siswa.

 

“Aktivitas anak-anak di Sekolah Rakyat ini berlangsung dari pagi hingga malam hari. Suplai air bersih tidak boleh terhenti,” kata Brigjen TNI Anggara Sitompul,.

 

Ia mengatakan armada tangki TNI akan membantu memasok air secara rutin.

 

“Kami sudah menginstruksikan Kodim dan armada tangki TNI untuk memback-up pengiriman air bersih rutin, minimal 10.000 liter setiap hari untuk kebutuhan pembersihan diri dan operasional siswa,” ujarnya.

 

Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara selama pasokan air bersih masih terbatas.

 

Sekolah Rakyat Palaran kini mengandalkan cadangan air, bantuan tangki, serta efisiensi penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan sekitar 520 siswa yang beraktivitas di lingkungan sekolah dan asrama.

 

Krisis air ini menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan aktivitas pendidikan di tengah kemarau panjang yang masih berlangsung di Samarinda.