SAMARINDA — Kualitas udara di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat, Kamis (17/9/2026).
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota Samarinda menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (19/9/2026).
Dari pantauan kamera drone, sejumlah kawasan di Samarinda terlihat diselimuti kabut cukup tebal sejak pagi. Jarak pandang dari udara tampak terbatas, dengan sejumlah bangunan dan kawasan perkotaan terlihat samar.
Kabut tersebut muncul bersamaan dengan memburuknya kualitas udara di Samarinda yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda di kawasan Bandara APT Pranoto menunjukkan angka particulate matter (PM) mencapai 249,2.
Kondisi itu menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak buruk polusi udara.
Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, penerapan pembelajaran jarak jauh dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi siswa dari paparan udara yang tidak sehat.
“Dengan kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan. Karena itu, pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu langkah untuk mengurangi aktivitas mereka di luar ruangan,” kata Suwarso.
Menurut Suwarso, selain anak-anak, kelompok rentan lainnya juga perlu mendapatkan perhatian selama kualitas udara memburuk.
“Bukan hanya anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki penyakit paru maupun jantung juga perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Samarinda menerapkan PJJ mulai Kamis hingga Sabtu. Kondisi kualitas udara akan terus dipantau sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Ini akan terus kita evaluasi. Kita melihat perkembangan kualitas udara dan kondisi di lapangan,” kata Suwarso.
Pemkot Samarinda mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan, selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan serta menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum dan mengurangi aktivitas fisik berat di ruang terbuka.
Hingga Kamis, kabut asap masih terlihat menyelimuti sejumlah wilayah Samarinda. Pemantauan kualitas udara dan kondisi Karhutla terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap kesehatan masyarakat.

