BERAU, IT-news.id – Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Kabupaten Berau, pengukuran kualitas udara diperlukan untuk memastikan kondisi udara terkini dan mengetahui apakah tingkat pencemaran masih dalam batas aman bagi masyarakat.

 

Dikonfirmasi Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan pengukuran kualitas udara terakhir belum dapat dilanjutkan lantaran persediaan bahan penyaring alat pengukur telah habis.

 

“Pantauan kualitas udara kemarin kehabisan alat saringannya. Jadi, minggu ini belum ada pengukuran lagi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (9/10/2026)

 

Meski belum memiliki hasil pengukuran terbaru, Zulkifli mengakui kondisi udara di Berau saat ini terlihat memburuk. Namun, ia menyebut jumlah titik panas di wilayah Berau justru mengalami penurunan.

 

Menurutnya, titik panas yang sebelumnya mencapai sekitar 600 titik kini turun menjadi sekitar 40 titik. Titik yang tersisa pun didominasi titik panas berskala kecil.

 

“Kalau dilihat dari monitor titik apinya, kita sangat minim. Kemarin dari 600-an turun menjadi 40, itu pun titik panas biasa yang kecil,” jelasnya.

 

Penurunan jumlah titik panas tersebut menjadi salah satu hal yang diperhatikan DLHK di tengah kondisi asap yang kembali pekat. Meski demikian, belum adanya pengukuran kualitas udara pekan ini membuat kondisi terkini belum dapat dipastikan melalui hasil pemantauan langsung.

 

Untuk memperkuat pemantauan, DLHK Berau berharap pengukuran kualitas udara dapat dilakukan secara rutin setiap hari. Zulkifli mengatakan pihaknya telah mengusulkan kerja sama dengan kementerian terkait agar pembaruan data kualitas udara bisa dilakukan secara berkala.

 

“Kami sudah mengusulkan ke kementerian, meminta agar bisa bekerja sama untuk memperbarui ukuran kualitas udara setiap hari. Sebab, untuk melakukan pengukuran setiap saat memang membutuhkan biaya besar. Jadi, kami menginginkan pengukuran harian,” pungkasnya.