BERAU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Kabupaten Berau mulai memasuki awal musim kemarau pada pertengahan Juni 2026. Meski demikian, sejumlah kawasan di pedalaman masih diperkirakan mengalami hujan sepanjang tahun.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan awal musim kemarau di Berau tidak terjadi secara serentak, melainkan bertahap sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
“Berdasarkan prediksi awal musim kemarau 2026, wilayah Kecamatan Tabalar, Talisayan, Batu Putih, dan Biduk-Biduk diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni dasarian II atau sekitar pertengahan Juni,” kata Ade Heryadi, Sabtu, 7 Juni 2026.
BMKG membagi satu bulan menjadi tiga dasarian, masing-masing berdurasi sekitar 10 hari. Dengan demikian, Juni dasarian II berlangsung pada periode 11–20 Juni.
Sementara itu, wilayah Gunung Tabur, Sambaliung, Pulau Derawan, Teluk Bayur, dan Tanjung Redeb diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Juli dasarian II atau sekitar pertengahan Juli.
Adapun sebagian wilayah Pulau Derawan, sebagian Sambaliung, serta Maratua diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat, yakni pada Juni dasarian III atau akhir Juni.
Untuk wilayah Kelay, awal musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dasarian I atau awal Agustus. Namun, secara umum Kecamatan Segah dan Kelay masih tergolong daerah dengan pola hujan tinggi sepanjang tahun.
“Segah dan Kelay secara umum memiliki satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun,” ujar Ade.
Menurut BMKG, periode pekan depan sudah memasuki Juni dasarian II sehingga beberapa wilayah pesisir Berau mulai menunjukkan tanda-tanda berkurangnya curah hujan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Potensi El Niño Perlu Diwaspadai
Di tengah prediksi awal musim kemarau tersebut, para pakar iklim juga mulai mencermati potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua hingga akhir 2026.
Profesor dari University of Maryland, R. Dwi Susanto, menyebut sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan kecenderungan terbentuknya El Niño di Samudra Pasifik.
“Berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Dwi, akumulasi panas di bawah permukaan laut Pasifik disertai kemunculan gelombang Kelvin yang mulai menggeser massa air hangat dari Pasifik barat ke Pasifik timur merupakan salah satu tanda awal perkembangan El Niño.
Ia menjelaskan perubahan tersebut dapat dipantau melalui suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin tropis di kawasan Pasifik.
Selain itu, berbagai model prediksi iklim internasional juga menunjukkan kecenderungan serupa, yakni peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan intensitas yang berpotensi mencapai kategori kuat hingga sangat kuat.
Dwi mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap Indonesia tidak hanya dipengaruhi kondisi Samudra Pasifik, tetapi juga interaksinya dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia.
“Kombinasi El Niño dan IOD positif dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi,” katanya.
Ia mencontohkan kejadian 1997–1998 ketika El Niño kuat berlangsung bersamaan dengan IOD positif. Saat itu, Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara signifikan yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di berbagai daerah.
Karena itu, Dwi menilai langkah mitigasi perlu disiapkan sejak dini, mulai dari pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, hingga penguatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi,” ujarnya.
Dengan mulai masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah pesisir Berau dan adanya sinyal perkembangan El Niño pada akhir tahun, masyarakat diimbau terus memantau informasi resmi BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca dan potensi kekeringan yang dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan.(*)

