SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, belum sepenuhnya padam meski telah berlangsung hampir dua pekan. Api yang membakar lapisan batu bara di bawah permukaan tanah membuat asap masih muncul dari sejumlah titik.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda melakukan penggalian guna mengangkat material batu bara yang masih terbakar. Penanganan dilakukan bersama BPBD Provinsi Kalimantan Timur dan relawan, dengan bantuan alat berat.
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Samarinda, Nanang Arifin, mengatakan penanganan dilakukan di kawasan Pelita 8, Perumahan Korpri, RT 8, Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan.
“Pada malam hari, kami bersama BPBD provinsi dan relawan melakukan penanganan asap batu bara di kawasan Pelita 8, Perumahan Korpri, RT 8, Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan,” ujarnya.
Menurut Nanang, batu bara yang terbakar berada di bawah permukaan tanah sehingga penanganannya membutuhkan penggalian. BPBD menggunakan alat berat untuk membuka area yang masih mengeluarkan asap agar material yang terbakar dapat dijangkau.
Penanganan juga dilakukan menggunakan cairan pemadam. Setelah penyemprotan di salah satu titik, kepulan asap dilaporkan mulai berkurang.
“Kami menggunakan alat berat untuk membuka area yang masih mengeluarkan asap. Setelah dilakukan penyemprotan, asap di salah satu titik mulai berkurang,” katanya.
Nanang menjelaskan, lapisan batu bara yang terbakar diperkirakan berada pada kedalaman sekitar satu hingga tiga meter. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dari permukaan tanah.
“Kedalaman batu bara yang terbakar diperkirakan sekitar satu hingga tiga meter. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dari permukaan, tetapi perlu penggalian dan pendinginan di titik-titik yang masih mengeluarkan asap,” jelasnya.
Selain di kawasan Pelita 8, petugas juga memantau titik lain yang masih menunjukkan indikasi kebakaran. Penanganan dilakukan secara bertahap untuk mengurangi sumber asap sekaligus mencegah bara kembali menyala.
“Kami masih melakukan penanganan bersama BPBD provinsi dan relawan. Setelah dilakukan penyemprotan, asap di salah satu titik mulai berkurang, tetapi kami tetap perlu melakukan pemantauan dan pendinginan lanjutan,” ungkap Nanang.
Kebakaran yang berlangsung hampir dua pekan ini menjadi tantangan bagi petugas karena sumber panas berada di lapisan bawah tanah. Bara yang tersisa berpotensi terus menghasilkan asap meskipun api tidak terlihat jelas di permukaan.
BPBD pun melanjutkan penanganan pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap, termasuk melalui penggalian dan pendinginan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi sumber bara sehingga dampak asap dari kebakaran batu bara di kawasan Sambutan bisa segera dikendalikan.

