TANJUNG SELOR – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bulungan ke-66 dan Kota Tanjung Selor ke-236 tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan daerah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Salah satunya melalui tarian gerak sama yang memadukan kesenian Jepen dan tarian tradisional Dayak serta Tidung.

Tradisi tersebut kembali ditampilkan dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Bulungan dan Kota Tanjung Selor yang berlangsung di Kebun Raya Bundahayati, Senin (12/10). Setelah pelaksanaan upacara peringatan Hari Jadi Bulungan, suasana semakin meriah ketika kepala daerah bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengikuti tarian tradisional dengan mengenakan beragam pakaian adat.

Di bawah terik matahari, para pejabat dan peserta tetap bersemangat mengikuti gerakan tarian yang diiringi alunan musik khas Jepen dan kesenian Dayak. Suasana kebersamaan terlihat ketika para peserta bergerak mengikuti irama, menjadikan tarian tersebut sebagai salah satu momen yang dinantikan dalam setiap peringatan hari besar daerah.

Bagi masyarakat Bulungan, tarian ini bukan sekadar hiburan atau pelengkap acara seremonial. Gerak sama Jepen dan tarian tradisional lainnya merupakan simbol kebersamaan yang mempertemukan beragam suku dan budaya dalam satu gerakan.

Tradisi tersebut juga tidak muncul begitu saja. Ada peran para pemimpin terdahulu yang berupaya menghadirkan budaya lokal dalam setiap peringatan hari jadi agar tetap dikenal, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bupati Bulungan periode 2005–2010 dan 2010–2015, Budiman Arifin, salah satunya yang melestarikan tradisi tersebut mengungkapkan bahwa tradisi menampilkan tarian daerah dalam peringatan hari besar berawal dari keinginannya untuk memberikan ruang bagi kesenian masyarakat pesisir maupun pedalaman.

“Ketika saya masuk ke daerah pesisir, orang bejepen. Masuk ke pedalaman, orang gerak sama. Kenapa tidak ditampilkan dalam suatu produksi daerah? Sehingga jadilah sampai sekarang tarian ini dilakukan ketika hari besar, termasuk HUT Bulungan dan Kota Tanjung Selor,” jelas Budiman saat diwawancarai IT-News.id.

Menurutnya, kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat perlu mendapatkan tempat dalam kegiatan resmi pemerintah. Dengan begitu, budaya lokal tidak hanya hidup di lingkungan masyarakat tertentu, tetapi juga menjadi identitas bersama yang dapat dinikmati oleh seluruh warga.

Ia menilai, gerak sama Jepen memiliki makna lebih dalam daripada sekadar rangkaian gerakan tari. Di dalamnya terdapat pesan persatuan, kebersamaan, serta penghargaan terhadap keberagaman suku yang hidup berdampingan di Kabupaten Bulungan.

Budiman juga berharap kesenian tersebut dapat memiliki landasan yang lebih kuat melalui peraturan daerah. Menurutnya, upaya pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

“Bulungan harus punya yang seperti itu. Kita tidak mungkin terus mengandalkan hal-hal baru, terutama untuk generasi Z. Ini juga sangat bermakna, apalagi bagi masyarakat pesisir. Maknanya adalah kebersamaan dalam gerakan, langkah yang mempersatukan suku dan budaya,” tuturnya.

Ia berharap, bertambahnya usia Kabupaten Bulungan dan Kota Tanjung Selor dapat membawa kemajuan bagi daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

Bagi Budiman, pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, infrastruktur, dan fasilitas umum. Pelestarian kebudayaan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan karena menyangkut identitas dan jati diri masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan Bupati Bulungan periode 2025–2030, Syarwani. Ia mengatakan, tradisi menari bersama setelah pelaksanaan upacara peringatan hari jadi merupakan warisan budaya yang telah diletakkan oleh para pemimpin sebelumnya dan perlu dilanjutkan oleh pemerintahan saat ini.

“Ini warisan budaya yang diletakkan Pak Budiman pada 2015. Itu pondasi. Bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun unsur budaya juga sangat penting. Ini bukan baru saja kita lakukan, melainkan sudah dilakukan oleh pendahulu kita,” ungkapnya.

Syarwani menegaskan, keberadaan tarian gerak sama Jepen dalam setiap peringatan hari jadi harus dipandang sebagai upaya meneruskan nilai-nilai yang telah diwariskan. Tradisi tersebut bukan hanya tentang mempertahankan sebuah pertunjukan, melainkan menjaga semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap, kegiatan tersebut dapat terus menjadi bagian dari peringatan hari jadi Kabupaten Bulungan dan Kota Tanjung Selor pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, generasi muda tetap memiliki kesempatan untuk mengenal budaya daerahnya secara langsung.

“Kita harapkan tradisi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Keterlibatan komunitas seni, kelompok masyarakat, serta generasi muda sangat diperlukan agar kesenian tradisional tetap berkembang dan tidak hanya muncul pada kegiatan seremonial,” harapnya. (Lia)