SAMARINDA – Ratusan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Simpang Tiga Jembatan Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah pusat yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Aksi yang berlangsung hingga malam hari itu diwarnai teatrikal menggunakan keranda mayat dan topeng bergambar Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Demonstrasi bahkan sempat memanas saat massa menutup sebagian badan jalan dan terlibat saling dorong dengan aparat kepolisian.

Koordinator aksi, Maulana, mengatakan demonstrasi dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini.

“Kami melihat beban masyarakat semakin berat. Harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup meningkat, sementara kebijakan yang dibuat pemerintah belum sepenuhnya menjawab persoalan yang dirasakan rakyat di lapangan,” kata Maulana, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

“Kami hadir bukan untuk membuat keributan. Kami hadir membawa suara rakyat yang hari ini mengeluhkan berbagai persoalan ekonomi dan sosial. Mahasiswa tidak boleh diam ketika ada kebijakan yang dinilai perlu dikritisi,” ujarnya.

Dalam aksinya, mahasiswa menyoroti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang disebut memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.

“Kenaikan BBM selalu berdampak berantai. Harga barang naik, ongkos transportasi naik, dan yang paling merasakan adalah masyarakat kecil,” ucapnya.

Selain itu, massa juga meminta pemerintah mengevaluasi sejumlah program nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih.

“Kami tidak menolak program pemerintah. Yang kami minta adalah evaluasi. Pastikan program tersebut benar-benar tepat sasaran, efektif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Maulana.

Aksi teatrikal menggunakan keranda mayat dan topeng Presiden serta Wakil Presiden sengaja ditampilkan untuk menarik perhatian publik terhadap tuntutan yang disampaikan.

“Keranda ini adalah simbol matinya kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Kami ingin pemerintah mendengar suara masyarakat dan lebih peka terhadap kondisi yang terjadi,” katanya.

Demonstrasi yang berlangsung di salah satu titik lalu lintas tersibuk di Samarinda itu sempat menyebabkan kemacetan panjang. Massa menutup sebagian ruas jalan sehingga kendaraan dari arah Samarinda Kota maupun Samarinda Seberang mengalami perlambatan.

Petugas kepolisian yang melakukan pengamanan kemudian meminta massa membuka akses jalan. Namun, karena demonstran tetap bertahan, sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat.

Meski demikian, situasi tidak berlangsung lama dan berhasil dikendalikan. Massa kemudian kembali melanjutkan orasi secara bergantian.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar mengatakan pihaknya sejak awal mengedepankan pendekatan persuasif dalam mengamankan jalannya aksi.

“Kami menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Tugas kami memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan tidak mengganggu kepentingan masyarakat secara luas,” ujar Hendri.

Ia menjelaskan personel ditempatkan di sejumlah titik untuk mengantisipasi gangguan keamanan maupun kemacetan lalu lintas.

“Kami melakukan pengamanan secara humanis. Ketika terjadi dinamika di lapangan, anggota tetap mengedepankan komunikasi dan pendekatan persuasif,” katanya.

Menurut Hendri, secara keseluruhan aksi berlangsung aman hingga berakhir sekitar pukul 21.00 Wita.

“Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Setelah massa membubarkan diri sekitar pukul sembilan malam, situasi kembali normal dan arus lalu lintas dapat berjalan lancar,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi mahasiswa yang akhirnya menyampaikan aspirasi secara tertib hingga kegiatan selesai.

“Kami berterima kasih kepada seluruh peserta aksi yang tetap menjaga kondusivitas. Aspirasi dapat disampaikan dan keamanan masyarakat juga tetap terjaga,” tuturnya.

Setelah massa membubarkan diri, petugas langsung melakukan pengaturan lalu lintas dan membersihkan area aksi. Kondisi di sekitar Simpang Tiga Jembatan Mahakam pun kembali normal pada malam hari.