BULUNGAN — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Gerakan Borneo Gugat Istana (GEBRAKAN) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Senin (13/4/2026). Aksi ini menjadi sorotan setelah mahasiswa menuding pemerintah pusat belum serius menuntaskan pembangunan di wilayah Kalimantan Utara.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB berlangsung emosional. Selain berorasi, massa juga melakukan aksi teatrikal dengan menyiram aspal jalan sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi pembangunan di daerah perbatasan.
“Aksi kami bukan sekadar demo. Ini adalah rasa kecewa karena kami merasa diabaikan. Jika tidak ada langkah nyata soal Daerah Otonomi Baru (DOB) dan proyek strategis lainnya, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” tegas Kristianto kepada IT-News.id, Kamis (16/4).
3 Tuntutan Utama untuk Presiden
Setelah satu jam beraksi, perwakilan mahasiswa akhirnya diterima oleh pihak Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) untuk menyerahkan dokumen tuntutan yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Daerah Otonomi Baru (DOB): Meminta percepatan pembentukan wilayah administratif baru agar pelayanan publik lebih dekat ke masyarakat.
Evaluasi PSN KIHI: Mendesak penanganan serius dan evaluasi terhadap Proyek Strategis Nasional Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kaltara.
Pemerataan Perbatasan: Menuntut percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan yang menjadi wajah negara.
Kemudian, Ketua Ikatan Mahasiswa Kaltara (IMKU) se-Jabodetabek, Bima Sadiropa, berharap Presiden tidak hanya duduk di balik meja menerima laporan. Ia meminta Kepala Negara turun langsung ke lapangan.
“Kami ingin Presiden melihat sendiri kondisi riil masyarakat di perbatasan. Jangan sampai pembangunan hanya jadi slogan,” ujar mahasiswa hukum UKI tersebut.
Menanggapi hal ini, staf Kemensetneg, Suherman, yang menerima perwakilan mahasiswa berjanji akan segera memproses laporan tersebut. Pihak Istana meminta mahasiswa untuk berkoordinasi kembali dalam tiga hari ke depan guna melihat perkembangan tindak lanjutnya.
Aksi ini membawa pesan kuat melalui spanduk bertuliskan: “Asta Cita Tanpa Fakta, Kaltara Diabai Negara”. Mahasiswa menegaskan bahwa Kaltara adalah gerbang kedaulatan yang tidak boleh dilupakan dalam agenda pembangunan nasional. (Lia)

