KUTAI KARTANEGARA – Warga RT 16 Desa Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sempat dibuat panik setelah sebuah ponton batu bara bernama Prima Sakti 09 larut terbawa arus deras Sungai Mahakam, Jumat (5/6/2026).
Ponton berukuran besar tersebut dilaporkan bergerak tanpa kendali mengikuti arus sungai dan sempat mengarah ke kawasan permukiman warga yang berada tepat di bibir Sungai Mahakam. Kondisi itu membuat warga khawatir ponton akan menabrak rumah-rumah yang berdiri di sepanjang tepian sungai.
Ketua RT 16 Desa Mariam, Baharuddin, mengatakan peristiwa tersebut terjadi saat arus Sungai Mahakam sedang cukup deras. Warga yang melihat ponton bergerak mendekati permukiman langsung keluar rumah untuk memantau situasi.
“Warga sempat panik karena ponton itu larut dan mendekati rumah-rumah yang berada di tepi sungai. Kami khawatir kalau sampai menghantam permukiman,” kata Baharuddin.
Menurutnya, meski tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga, kejadian tersebut kembali mengingatkan masyarakat akan risiko aktivitas lalu lintas dan tambat kapal ponton di kawasan Sungai Mahakam.
Baharuddin mengungkapkan, insiden ponton larut bukan kali pertama terjadi di wilayahnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian serupa kerap terjadi karena banyaknya kapal dan ponton batu bara yang bersandar maupun bertambat di sekitar perairan Desa Mariam.
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah beberapa kali ponton maupun kapal larut karena jumlahnya memang sangat banyak yang bertambat di sekitar kawasan sungai ini,” ujarnya.
Ia menilai padatnya aktivitas angkutan batu bara di Sungai Mahakam menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya insiden serupa, terutama saat kondisi cuaca buruk atau arus sungai sedang kuat.
Selain menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat, ponton yang larut juga berpotensi membahayakan pengguna sungai lainnya. Tidak hanya rumah warga yang terancam, tetapi juga perahu nelayan dan kapal-kapal kecil yang melintas di sekitar lokasi.
Karena itu, Baharuddin berharap perusahaan pemilik kapal maupun pihak terkait dapat meningkatkan pengawasan terhadap armada yang sedang bertambat. Pemeriksaan terhadap tali tambat dan sistem pengamanan kapal dinilai perlu dilakukan secara rutin agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Kami berharap ada perhatian serius dari perusahaan maupun instansi terkait. Jangan sampai ketika ponton larut baru dilakukan penanganan. Pengawasan harus diperketat sejak awal,” tegasnya.
Warga juga meminta adanya evaluasi terhadap lokasi tambat kapal dan ponton batu bara yang berada dekat dengan kawasan permukiman. Menurut mereka, keberadaan puluhan ponton di sekitar Desa Mariam telah lama menjadi perhatian karena sewaktu-waktu dapat menimbulkan ancaman bagi keselamatan masyarakat.
Meski situasi akhirnya dapat terkendali dan ponton tidak sampai menabrak rumah warga, peristiwa larutnya Prima Sakti 09 kembali menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk meningkatkan aspek keselamatan pelayaran dan aktivitas tambat kapal di Sungai Mahakam.
Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang, mengingat dampaknya bisa jauh lebih besar apabila ponton berukuran besar tersebut sampai menghantam permukiman yang berada di sepanjang bantaran sungai.

