SAMARINDA, – Kekeringan yang masih melanda Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, membuat sejumlah petani terpaksa menunda musim tanam. Puluhan hektare sawah tadah hujan kini mengering dan belum memungkinkan untuk kembali ditanami.

 

Petakan sawah yang biasanya mulai dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya justru dibiarkan kosong. Petani belum berani menebar benih karena pasokan air tidak mencukupi, sementara hujan belum turun secara konsisten.

 

Sadikun, salah seorang petani di Pulau Atas, mengatakan kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian praktis terhenti. Padahal, berdasarkan perhitungan musim tanam, para petani seharusnya sudah mulai menanam pada periode ini.

 

Jika penanaman berjalan sesuai jadwal, hasil panen diperkirakan dapat diperoleh menjelang bulan Ramadhan.

 

“Seharusnya sudah tanam bulan ini. Kalau sesuai hitungan, sekitar bulan Ramadhan sudah bisa panen. Tetapi sekarang belum bisa karena kekeringan. Kami hanya menunggu air hujan,” kata Sadikun saat di konfirmasi (Selasa 3/11/2026).

 

Menurut dia, sawah di Pulau Atas masih bergantung pada curah hujan. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, petani tidak memiliki cukup sumber air untuk mempertahankan kegiatan pertanian.

 

 

Pendapatan Petani Terhenti

 

Dampak kekeringan tidak hanya terlihat dari lahan pertanian yang mengering. Petani juga mulai kehilangan sumber pemasukan karena tidak dapat menjalankan aktivitas tanam.

 

Sadikun mengatakan, sebagian petani kini bertahan menggunakan sisa uang dari hasil panen sebelumnya. Mereka belum berani mengambil risiko menanam padi maupun sayuran karena khawatir tanaman tidak dapat tumbuh akibat kekurangan air.

 

“Mau tanam sayur juga tidak bisa karena tidak ada hujan. Sekarang tidak ada aktivitas lagi, kami hanya menunggu air dari langit. Untuk bertahan hidup, masih menggunakan sisa uang hasil panen kemarin,” ujarnya.

 

Menurut Sadikun, bantuan distribusi air menggunakan mobil tangki belum cukup untuk mengembalikan kondisi sawah seperti semula. Kebutuhan air untuk lahan pertanian jauh lebih besar dibandingkan sekadar memenuhi kebutuhan air dalam jumlah terbatas.

 

Petani membutuhkan pasokan air yang memadai agar lahan kembali bisa diolah dan ditanami.

 

 

Produksi Padi Berpotensi Berkurang

 

Kekeringan di Pulau Atas dilaporkan berdampak terhadap sekitar 56 hektare lahan pertanian yang dikelola empat kelompok tani.

 

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi frekuensi panen petani. Dalam kondisi normal, mereka dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Namun, tahun ini diperkirakan hanya dua kali panen.

 

Sadikun menyebut produktivitas sawah selama ini bisa mencapai sekitar enam ton gabah per hektare dalam satu kali panen.

 

Berkurangnya satu musim panen tentu berpengaruh terhadap pendapatan petani, terlebih ketika mereka harus menghadapi masa tanpa aktivitas pertanian.

 

 

Bantuan Pompa Air Belum Optimal

 

 

Di tengah kondisi tersebut, petani sebenarnya telah menerima bantuan pompa irigasi. Namun, pemanfaatannya belum berjalan optimal karena pemasangan sarana tersebut belum sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

 

Selain persoalan pemasangan, ketersediaan bahan bakar juga menjadi kendala untuk mengoperasikan pompa air.

 

Sadikun berharap persoalan teknis tersebut segera mendapat perhatian agar bantuan yang tersedia benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

 

Bagi petani Pulau Atas, keberadaan sumber air menjadi penentu keberlanjutan kegiatan pertanian. Tanpa hujan atau dukungan irigasi yang memadai, mereka belum memiliki kepastian kapan bisa kembali menanam.

 

Untuk sementara, petani hanya bisa menunggu perubahan cuaca. Sawah yang seharusnya menjadi sumber penghidupan masih terbentang kering, sementara harapan untuk memulai musim tanam kembali bergantung pada datangnya hujan.