SAMARINDA – Akses yang selama ini terputus antara RT 30 Handil Bakti dan RT 23 Simpang Pasir akhirnya tersambung. Jembatan penghubung yang telah lama dinantikan warga resmi dioperasikan, membuka mobilitas baru bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Peresmian dilakukan oleh Pangdam VI/Mulawarman, Krido Pramono, bersama Wali Kota Samarinda Andi Harun serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran lintas unsur ini menandai kuatnya kolaborasi dalam pembangunan infrastruktur yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Tidak hanya seremoni, kegiatan tersebut juga diisi dengan aksi sosial dan lingkungan. Sebanyak 10.000 benih ikan nila ditebar, pohon durian musang king ditanam, serta 100 paket bantuan disalurkan kepada warga. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Bagi warga setempat, jembatan ini membawa perubahan besar. Selama bertahun-tahun, keterbatasan akses membuat aktivitas harian menjadi sulit, mulai dari anak sekolah yang harus menempuh jalur memutar hingga distribusi kebutuhan pokok yang terhambat.
Kini, dengan terbukanya jalur penghubung tersebut, waktu tempuh menjadi lebih singkat dan aktivitas masyarakat semakin efisien. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada mobilitas, tetapi juga pada peningkatan produktivitas ekonomi warga.
Dalam sambutannya, Krido Pramono menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang dilandasi kepedulian terhadap masyarakat.
“Semua ini terjadi karena kebersamaan. TNI, Polri, pemerintah, dan masyarakat bersatu sehingga jembatan ini bisa terwujud,” ujarnya Rabu(22/4/2026).
Ia juga menyebut proyek ini sebagai bagian dari program strategis nasional yang diinisiasi pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Program tersebut bertujuan mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Selain jembatan di kawasan Palaran, terdapat enam titik pembangunan lain di wilayah Kodim 0901/Samarinda, yakni di Kelurahan Rawa Makmur, Lok Bahu, Bukuan, Bantuas, Lempake, dan Sungai Kapih. Pembangunan difokuskan pada wilayah yang memiliki keterbatasan akses atau jembatan yang sudah tidak layak digunakan.
“Pengerjaan dilakukan dengan gotong royong bersama masyarakat dan personel TNI. Meski waktunya singkat, kualitas tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
Jembatan yang dibangun memiliki panjang bervariasi antara 4 hingga 12 meter dan ditargetkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, sekaligus mendukung akses pendidikan, layanan kesehatan, dan distribusi logistik.
Sementara itu, Andi Harun menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan implementasi langsung dari arahan pemerintah pusat dalam memperkuat konektivitas wilayah.
“Ini bentuk nyata upaya membuka akses masyarakat, memperlancar logistik, dan mendukung fasilitas dasar seperti pendidikan dan layanan publik,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dengan TNI dan Polri dalam mempercepat pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, manfaat jembatan ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dalam jangka panjang. Akses yang lebih mudah akan membuka peluang usaha baru serta meningkatkan interaksi sosial antarwarga.
Dengan konektivitas yang semakin baik, distribusi barang menjadi lebih lancar dan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, diharapkan ikut terdorong.
Peresmian jembatan ini menjadi bukti bahwa pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat mampu memberikan dampak nyata. Infrastruktur tidak lagi sekadar proyek fisik, melainkan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan.
Kini, warga di kedua wilayah tersebut dapat menikmati akses yang lebih mudah dan aman. Harapan pun tumbuh agar pembangunan serupa terus berlanjut di wilayah lain yang masih membutuhkan.
“Jembatan ini bukan hanya penghubung wilayah, tetapi juga penghubung harapan masyarakat untuk hidup yang lebih baik,” tutup Andi Harun.

