TANJUNG REDEB – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau menegaskan bahwa banjir yang kerap merendam Jalan Diponegoro bukan disebabkan oleh dimensi drainase yang kecil, melainkan akibat tumpukan sampah dan sedimentasi (2/3).

Masalah gangguan lalu lintas ini diyakini dapat tuntas jika ada sinergi antara kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan langkah taktis dari dinas terkait.

Salah seorang pengendara motor, Wawan, mengeluhkan kondisi jalan tersebut. Menurutnya, genangan air sering kali menutupi badan jalan saat hujan deras, sehingga membahayakan pengguna jalan, terutama pada malam hari.

“Banjirnya lumayan dalam kalau hujan deras. Jalan sampai tidak kelihatan, apalagi kalau malam hari, sangat berisiko,” ujar Wawan. Ia menambahkan, kondisi ini sering kali memaksa pengendara mencari jalan alternatif untuk menghindari mogok.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR, Hendra Pratama, menjelaskan bahwa secara teknis saluran drainase di wilayah tersebut sudah mencukupi. Namun, penyumbatan terjadi pada lubang pembuangan air akibat sampah dan lumpur.

“Saluran di Diponegoro itu sebenarnya sudah besar. Namun, hasil pantauan kami menunjukkan adanya endapan lumpur dan sampah di titik tangkapan air,” ungkap Hendra.

Ia menegaskan bahwa masalah utama bukan pada konstruksi drainasenya, melainkan pada tumpukan sampah serta sedimen lumpur yang berasal dari timbunan aktivitas warga sekitar.

Sebagai langkah solusi, Hendra berharap adanya alokasi anggaran yang memadai untuk menjalankan program khusus pengerukan lumpur secara rutin. Program ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang guna memastikan aliran air kembali lancar.

Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke saluran air menjadi kunci utama agar fasilitas publik ini dapat berfungsi optimal. Dengan lingkungan yang bersih, risiko banjir dapat diminimalisir sehingga masyarakat dapat beraktivitas tanpa hambatan.(Akti)