BERAU – Pasca puncak libur Lebaran, sektor pariwisata di Kabupaten Berau menghadapi sejumlah tantangan akibat meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan. Kondisi ini memicu terjadinya fenomena over tourism di beberapa destinasi unggulan.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama, Ing Ta Wijaya, menjelaskan bahwa lonjakan wisatawan yang terjadi dalam waktu bersamaan menjadi faktor utama munculnya berbagai kendala di lapangan.
“Peningkatan jumlah kunjungan pada musim liburan terjadi sangat signifikan karena masyarakat datang dalam waktu yang bersamaan, sehingga memicu terjadinya over tourism,” ujarnya Kamis (26/03/2026).
Jaya menyampaikan bahwa permasalahan utama yang dihadapi adalah pengelolaan sampah. Volume sampah yang meningkat seiring tingginya jumlah wisatawan menjadi perhatian serius bagi pengelola destinasi.
“Permasalahan sampah selalu menjadi isu utama. Kami terus melakukan upaya mitigasi bersama pihak kampung, di antaranya melalui penanganan langsung di lokasi,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan akomodasi juga menjadi kendala, khususnya di destinasi wisata populer seperti Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk. Tingginya permintaan penginapan menyebabkan sebagian wisatawan tidak memperoleh tempat menginap.
“Sebagian wisatawan telah melakukan pemesanan jauh hari sebelumnya. Namun, terdapat pula wisatawan yang datang tanpa perencanaan sehingga tidak mendapatkan akomodasi,” ungkapnya.
Fenomena wisatawan yang menginap di masjid sempat terjadi sebagai solusi darurat. Hal tersebut merupakan inisiatif masyarakat setempat dalam membantu wisatawan yang tidak memperoleh penginapan.
“Pihak kampung bersama pelaku pariwisata setempat membuka fasilitas masjid sebagai alternatif tempat menginap bagi wisatawan,” tambahnya.
Jaya menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada satu pihak, mengingat tingginya lonjakan wisatawan di luar kapasitas yang tersedia.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pariwisata Berau telah membentuk kelompok koordinasi di masing-masing destinasi wisata unggulan untuk memantau kondisi selama masa liburan. Melalui langkah tersebut, diharapkan setiap kendala dapat segera ditangani secara cepat dan tepat.
“Kami terus meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan pengelola destinasi agar setiap permasalahan dapat segera ditindaklanjuti,” tutupnya.
Diperlukannya penguatan kolaborasi dengan pelaku usaha akomodasi serta peningkatan kesadaran wisatawan untuk melakukan perencanaan perjalanan secara matang, guna meminimalkan potensi kendala serupa di masa mendatang.(fp*)

