TANJUNG SELOR – Suasana khidmat dan penuh penghayatan menyelimuti peringatan Jumat Agung di Kabupaten Bulungan, Jumat (3/4). Ratusan umat Nasrani dari berbagai denominasi gereja mengikuti rangkaian ibadah untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus.

Dari pantauan sejumlah gereja di jantung Kabupaten Bulungan yakni Tanjung Selor, mulai dari Gereja Katedral (Katolik), GPDI, GKII hingga GPIB, menggelar ibadah Jumat Agung secara serentak.

Di Gereja GPIB Maranatha yang berlokasi di Jalan D.I. Panjaitan, ratusan jemaat tampak memadati ruangan dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka dan penghormatan.

Ibadah yang dimulai pukul 09.30 WITA hingga pukul 13.00 WITA itu berlangsung dengan khusyuk. Jemaat mengikuti seluruh rangkaian, mulai dari doa, pujian, hingga puncaknya Jamuan Kudus Meja Salib.

Pendeta Septy Bepras Lilungsir menjelaskan, bahwa Jamuan Meja Salib merupakan simbol penting dalam peringatan Jumat Agung.

“Jamuan ini mengenang pengorbanan Yesus Kristus. Roti dan anggur yang dibagikan melambangkan tubuh dan darah-Nya yang telah dikorbankan untuk menebus dosa umat manusia,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya jemaat telah mengikuti ibadah Kamis Putih yang dirangkaikan dengan prosesi pembasuhan kaki, sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan.

Dalam khotbahnya, Pendeta Septy mengajak jemaat merenungkan makna kehidupan melalui pengorbanan Kristus.

“Hidup itu berharga, hidup itu berarti, dan hidup itu penting. Yesus menunjukkan itu melalui pengorbanan-Nya. Ia mati bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan dunia untuk kita semua.” Jelasnya.

Ia menggambarkan bahwa kematian bukanlah hal yang mudah, melainkan penuh penderitaan dan kesakitan. Namun justru melalui kematian itulah kasih Tuhan dinyatakan secara nyata.

“Kematian adalah kegelapan dan kesedihan yang mendalam. Namun Yesus memilih jalan itu, agar kita dapat hidup. Itulah kasih yang begitu besar kasih yang menyentuh dan menghidupkan.” Tambah dia

Jumat Agung sendiri merupakan hari suci bagi umat Kristiani untuk mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Bukit Golgota. Peringatan ini menjadi bagian dari Tri Hari Suci, yang dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga puncaknya pada Minggu Paskah.

Melalui peringatan ini, umat diajak untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga menghayati makna pengorbanan, kasih, dan harapan dalam kehidupan sehari-hari. (lia)