BERAU, It-news.id — Pemerintah Arab Saudi memberikan sinyal positif terkait usulan penggantian jemaah haji yang batal berangkat, meski visa telah diterbitkan. Kebijakan ini dinilai dapat membuka peluang bagi optimalisasi kuota haji, termasuk di daerah.

Dilansir dari Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh), Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa setiap tahun terdapat ribuan jemaah yang batal berangkat karena berbagai alasan, seperti meninggal dunia atau kondisi kesehatan.

“Setiap tahun hampir 2.000 sampai 3.000 jemaah tidak jadi berangkat karena meninggal, sakit, dan sebagainya. Kami berharap bisa mengganti mereka,” ujarnya dalam forum Haji Outlook 2026, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan, pemerintah Arab Saudi menyambut baik usulan tersebut sebagai bagian dari upaya optimalisasi kuota haji.

“Alhamdulillah, Menteri Haji Saudi juga welcome dengan hal itu,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Berau, Hindun Nahdiani, menyebut kebijakan tersebut berpotensi membuka peluang bagi jemaah di daerah.

Saat dikonfirmasi terkait kemungkinan jemaah cadangan di Berau bisa berangkat menggantikan jemaah yang batal, Hindun menyatakan hal tersebut sangat mungkin terjadi, meski masih menunggu petunjuk teknis dari pusat.

“Ya, kemungkinan itu ada. Kalau memang ada kebijakan resmi dan mekanismenya jelas dari pusat, tentu bisa menjadi peluang bagi jemaah cadangan di Berau untuk berangkat menggantikan yang batal,” ujarnya saat diwawancarai melalui pesan singkat, Sabtu (4/4/2026).

Meski demikian, implementasi teknis dari kebijakan tersebut masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari pemerintah pusat, termasuk mekanisme penggantian jemaah yang telah memiliki visa.

Diketahui, wacana ini muncul sebagai solusi atas tingginya angka jemaah yang batal berangkat setiap tahun. Bahkan, jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang secara nasional.

Dengan adanya peluang penggantian jemaah, diharapkan kuota haji dapat dimanfaatkan secara maksimal serta membuka kesempatan bagi jemaah lain untuk berangkat lebih cepat. (atrf)