JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan ketahanan energi nasional tetap stabil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Melalui strategi diversifikasi sumber impor dari Amerika Serikat hingga Australia, cadangan LPG Indonesia kini dipastikan aman dengan kapasitas operasional di atas 10 hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, bahwa fase kritis terkait pasokan LPG telah berhasil dilewati. Saat ini, cadangan nasional berada dalam kondisi yang relatif aman.
“Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari,” ujar Bahlil usai menghadiri Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Dilansir dari tvonenews.com, Kamis (9/4/2026).
Tak hanya itu, pemerintah juga memastikan tambahan suplai akan segera memperkuat stok dalam negeri. Sejumlah kapal pengangkut LPG disebut tengah dalam proses menuju Indonesia.
“Sebentar lagi kapal kita masuk,” lanjutnya.
Dalam paparannya, Bahlil menekankan bahwa Indonesia tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk pasokan LPG. Hal ini menjadi kunci stabilitas di tengah gejolak geopolitik kawasan Timur Tengah.
“Kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika dan beberapa negara lain,” kata Bahlil.
Langkah diversifikasi ini juga diterapkan pada pasokan minyak mentah (crude oil). Meski sebelumnya sebagian impor berasal dari kawasan Timur Tengah, pemerintah kini telah mengalihkan sumber pasokan ke berbagai negara alternatif.
“Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude sekitar 20–25 persen. Dan kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain,” Bahlil menjelaskan.
Dengan strategi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tidak akan terganggu oleh dinamika global yang tengah berlangsung.
“Jadi kita Insyaallah sudah clear lah,” tutupnya. (agr)

