Samarinda — Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kalimantan Timur, Akhmed Reza Fachlevi, sempat terpancing emosi dalam rapat hak angket di Gedung Karangpaci, Senin, 4 Mei 2026. Ia bahkan harus ditenangkan oleh sejumlah orang agar rapat tetap berjalan.
Emosi Reza, yang akrab disapa Reza, muncul saat menanggapi pernyataan Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Syahariah Mas’ud. Ia menyampaikan keberatan atas komentar yang disampaikan Syahariah dalam grup WhatsApp internal DPRD.
“Saya keberatan atas pernyataan ibu Hj Syahariah Mas’ud dalam grup whatsapp internal DPRD Kaltim,” kata Reza.
Menurut Reza, pernyataan tersebut dinilai kasar dan merendahkan secara personal. Ia menyebut ucapan itu tidak hanya menyerangnya, tetapi juga mencederai nilai-nilai keluarga yang ia pegang.
“Saya tidak pernah diajari berkata (kasar) seperti itu. Ini etika, ini marwah dari keluarga saya,” ujarnya.
Reza menegaskan, grup WhatsApp DPRD Kaltim merupakan forum komunikasi kedinasan yang seharusnya menjunjung etika dan saling menghormati antaranggota.
“Perlu saya tegaskan, grup ini merupakan forum komunikasi kedinasan DPRD. Bukan untuk merendahkan personal. Ini melanggar kode etik,” katanya.
Ia juga menilai ucapan tersebut berpotensi melanggar kode etik DPRD dan tidak sejalan dengan prinsip komunikasi pejabat publik. Bahkan, ia menyinggung kemungkinan pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Menanggapi hal itu, Syahariah Mas’ud mengakui sempat berbicara keras di grup WhatsApp karena merasa kesal. Ia menilai Reza sebelumnya mendorong agar rapat konsultasi hak angket segera dijadwalkan, namun tidak hadir saat rapat berlangsung.
“Saya ingat, waktu itu Pak Reza ambisi mendorong rapat, namun ketika dilaksanakan beliau tidak hadir, fraksi lain tidak ada. Seharusnya beliau jauh di depan,” ujarnya.
Akibatnya, rapat yang dijadwalkan pukul 14.00 WITA harus ditunda dan baru terlaksana menjelang petang. Pada saat yang sama, massa aksi 214 telah menunggu di luar gedung DPRD Kaltim.
“Makanya, saya mohon maaf kalau di grup bicara agak kasar. Mohon maaf, saya bukan orang kasar ya. Tapi, kalau sudah di momen-momen mendesak seperti ini, saya jadi berkata seperti itu,” kata Syahariah. (*)

