IT-NEWS.ID- Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada awal perdagangan, Senin (25/5/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah ke posisi Rp17.723 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah pergerakan bervariasi mata uang global.
Mengutip data Bloomberg, rupiah tercatat turun 6 poin atau sekitar 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah tipis 0,11 persen, sementara dolar Singapura menguat 0,25 persen dan won Korea Selatan melonjak 0,55 persen.
Penguatan juga terjadi pada peso Filipina sebesar 0,5 persen, rupee India 0,53 persen, yuan China 0,23 persen, ringgit Malaysia 0,35 persen, hingga baht Thailand yang naik 0,74 persen.
Sementara itu, pergerakan mata uang Eropa terhadap dolar AS terpantau campuran. Euro melemah 0,33 persen dan pound sterling turun 0,35 persen. Di sisi lain, franc Swiss menguat 0,37 persen, diikuti krona Swedia yang melonjak 0,85 persen serta krona Denmark naik 0,31 persen.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tingginya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, termasuk penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dunia.
Level rupiah yang kini berada di kisaran Rp17 ribuan juga menjadi sorotan pelaku pasar karena mendekati titik psikologis tertinggi sejak krisis moneter Asia pada akhir 1990-an.

