TANJUNG SELOR – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6) pukul 06.37 WIB memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk tiga daerah di Kalimantan Utara (Kaltara).

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut pada koordinat 5,80 Lintang Utara dan 125,14 Bujur Timur, atau sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 47 kilometer.

Forecaster BMKG Tanjung Selor, Slyvi, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng di kawasan tersebut.

“Berdasarkan hasil analisis, gempa ini memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Kondisi tersebut menyebabkan gempa berpotensi memicu terjadinya tsunami di beberapa wilayah yang berada di sekitar kawasan terdampak,” ujarnya.

BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi dan Maluku dengan intensitas bervariasi. Di Kota Morotai dan Halmahera Utara, getaran dirasakan cukup kuat dengan skala IV MMI. Sementara beberapa daerah lain seperti Manado, Bitung, Ternate, Palu dan Gorontalo merasakan getaran pada skala III MMI.

Meski demikian, hingga laporan ini diterbitkan, belum terdapat laporan kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut.

Hasil pemodelan tsunami BMKG menunjukkan gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan status Siaga di sejumlah wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah. Sementara itu, beberapa daerah lain mendapat status Waspada, termasuk Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan di Kalimantan Utara.

Status waspada berarti masyarakat diminta menjauhi kawasan pantai dan tidak melakukan aktivitas di tepi pantai maupun muara sungai hingga situasi dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

“Untuk wilayah yang masuk kategori waspada, masyarakat diimbau tidak beraktivitas di sekitar pantai dan tepian sungai. Tetap tenang dan ikuti arahan dari pemerintah daerah serta informasi resmi BMKG,” kata Slyvi.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya. Seluruh informasi terkait perkembangan gempa dan potensi tsunami hanya dapat diperoleh melalui kanal resmi BMKG.

Sementara itu, hasil pemantauan hingga pukul 07.00 WIB menunjukkan telah terjadi satu kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,7.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi, khususnya di wilayah pesisir Kaltara yang masuk dalam daftar daerah berstatus waspada tsunami.

“Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Informasi resmi BMKG harus menjadi acuan utama agar tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi,” tutupnya. (Lia)