BERAU, IT-NEWS.ID – Di saat puluhan pasien harus antre untuk mendapatkan layanan cuci darah, sejumlah mesin hemodialisis (HD) di RSUD dr. Abdul Rivai ternyata masih tersimpan di gudang dan belum dimanfaatkan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, yang menyebut persoalan utama bukan lagi kekurangan alat maupun tenaga medis, melainkan keterbatasan ruang pelayanan.
Saat ini, hanya delapan mesin cuci darah yang beroperasi di RSUD Abdul Rivai. Padahal, masih terdapat beberapa mesin lain yang kondisinya baru dan siap digunakan. Namun, standar operasional pelayanan mengharuskan adanya jarak tertentu antar tempat tidur pasien sehingga kapasitas ruangan yang ada tidak memungkinkan penambahan unit.
“Sebetulnya masih ada mesin yang lain di gudang, bahkan ada yang masih baru. Tapi ruang cuci darah kita kecil. Kalau soal alat, sudah siap. Yang kurang sekarang hanya ruangan,” ujarnya Sabtu (20/06/2026).
Menurutnya, berbagai dukungan untuk menambah kapasitas layanan sebenarnya telah tersedia. Kerja sama operasional (KSO) sudah berjalan, tenaga kesehatan tersedia, bahkan ada pihak yang siap memberikan tambahan mesin. Namun seluruh rencana tersebut terhambat karena belum tersedianya ruang yang memadai untuk menempatkan peralatan tersebut.
Gamalis menjelaskan, salah satu solusi yang tengah disiapkan adalah mengaktifkan Gedung Walet yang berada di lingkungan rumah sakit. Namun gedung tersebut masih membutuhkan sejumlah fasilitas pendukung.
Jika Gedung Walet sudah siap digunakan, sebagian layanan di RSUD Abdul Rivai dapat dipindahkan ke sana. Ruang yang ditinggalkan nantinya akan dialihfungsikan menjadi ruang cuci darah baru sehingga kapasitas layanan dapat ditingkatkan.
Saat ini terdapat sekitar 50 pasien aktif yang rutin menjalani cuci darah, sementara kapasitas yang tersedia hanya delapan bed. Akibatnya, antrean pasien tidak dapat dihindari.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pasien dari luar daerah yang sedang berada di Berau. Pasien gagal ginjal yang datang untuk berlibur, bekerja, atau mengunjungi keluarga sering kali berharap dapat melanjutkan jadwal cuci darah mereka di Berau. Namun keterbatasan kapasitas membuat rumah sakit kesulitan mengakomodasi seluruh permintaan tersebut.
“Cuci darah itu seminggu dua kali. Tidak mungkin mereka harus pulang ke daerah asalnya hanya untuk menjalani terapi. Tapi karena slot kita terbatas, kadang kita tidak bisa melayani semuanya,” jelasnya.
Menurutnya, penyediaan ruang pelayanan baru menjadi kunci untuk mengurangi antrean pasien dan memaksimalkan pemanfaatan alat kesehatan yang selama ini belum digunakan.
“Jangan pikirkan mesinnya, jangan pikirkan tenaganya. Pikirkan saja ruangannya. Kalau ruang tersedia, pelayanan bisa langsung ditambah,” tegasnya.

