SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebakaran permukiman, hingga kekeringan menjadi perhatian serius pemerintah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat langkah mitigasi dengan meningkatkan pemantauan wilayah rawan serta mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat.

Kepala BMKG Samarinda, Reza Arfian Noor, mengatakan tren penurunan curah hujan mulai terjadi sejak April hingga Mei 2026. Memasuki Juni, sekitar 40 persen wilayah Kalimantan Timur telah memasuki musim kemarau, kemudian meluas pada Juli dan diperkirakan mencapai sekitar 90 persen wilayah pada Agustus mendatang.

«”Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang dapat ditimbulkan,” ujar Reza, Selasa (21/7/2026).»

Menurut Reza, hasil pemantauan atmosfer juga menunjukkan adanya kecenderungan menuju fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada Agustus.

«”Prediksi menunjukkan kondisi mulai mengarah ke El Nino, bahkan pada Agustus diperkirakan intensitasnya sudah masuk kategori kuat,” katanya.»

BMKG memperkirakan curah hujan di Samarinda pada periode 20 hingga 31 Juli hanya berkisar 10–50 milimeter atau berada pada kategori rendah. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, debit sejumlah anak Sungai Mahakam berpotensi menurun dan memengaruhi ketersediaan air bersih di beberapa wilayah.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

«”Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang berpotensi memicu kebakaran, serta selalu mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG,” ujar Reza.»

Menindaklanjuti prakiraan tersebut, BPBD Samarinda memperkuat kesiapsiagaan dengan mengoptimalkan pemantauan daerah rawan serta melibatkan relawan kebencanaan di tingkat kecamatan dan kelurahan.

Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Samarinda, Hamzah, mengatakan musim kemarau yang lebih panjang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan dan kebakaran permukiman.

«”Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang. Masyarakat kami imbau tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah sembarangan karena risiko penyebaran api jauh lebih tinggi,” kata Hamzah.»

BPBD mencatat sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 telah terjadi 26 kasus kebakaran lahan di Samarinda dengan total luas area terdampak mencapai sekitar 122 ribu meter persegi.

Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas manusia.

BPBD menetapkan Kecamatan Samarinda Utara, Sambutan, dan Palaran sebagai wilayah prioritas pemantauan karena memiliki tingkat kerawanan karhutla yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.

“Kecamatan Samarinda Utara, Sambutan, dan Palaran menjadi wilayah yang kami prioritaskan dalam pemantauan karena memiliki tingkat kerawanan karhutla yang lebih tinggi. Namun kami mengingatkan seluruh masyarakat agar tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau,” pungkas Hamzah.