KUTAI KARTANEGARA, – Setiap hari, kereta gantung menjadi satu-satunya akses tercepat bagi sejumlah siswa dan warga di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, untuk menyeberangi Sungai Santan. Meski harus bertaruh dengan risiko keselamatan, mereka tetap menggunakan fasilitas sederhana itu demi bisa bersekolah dan beraktivitas.
Kereta gantung yang awalnya dibangun secara swadaya masyarakat kini menjadi urat nadi bagi warga di seberang sungai. Selain mengangkut hasil kebun, fasilitas tersebut juga dimanfaatkan anak-anak menuju SD Negeri 021 dan SMA Negeri 2 Filial Marangkayu.
Salah seorang warga, Solihun, mengatakan kereta gantung dibangun karena tidak adanya jembatan yang menghubungkan permukiman dengan jalan utama. Kehadirannya sangat membantu karena memangkas jarak tempuh yang sebelumnya harus memutar hingga sekitar sembilan kilometer.
“Kalau tidak ada kereta gantung, anak-anak harus memutar jauh. Sekarang jaraknya tinggal sekitar dua kilometer. Bukan hanya anak sekolah, masyarakat yang ke kebun juga sangat terbantu,” ujar Solihun, Rabu(22/7/2026).
Meski bermanfaat, warga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar aktivitas masyarakat dan pelajar menjadi lebih aman.
Harapan serupa disampaikan Pemerintah Desa Santan Ulu. Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengungkapkan usulan pembangunan jembatan sebenarnya telah berkali-kali diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara hingga pemerintah pusat, bahkan lokasi tersebut pernah ditinjau langsung oleh Bupati Kukar saat itu, Edi Damansyah, sekitar dua tahun lalu.
Namun hingga kini, masyarakat masih harus bergantung pada kereta gantung setiap hari.
“Pada dua tahun yang lalu Bapak Bupati Kukar berkunjung ke kereta gantung itu. Kami mengira setelah kunjungan tersebut akan ada proses penyelesaian, apakah warga direlokasi atau bagaimana. Tetapi sampai sekarang kondisinya masih seperti ini. Apa pun status lahannya dan bagaimana regulasinya, harapan kami ada jalan keluar bagi masyarakat di seberang sungai itu,” kata Heri.
Menurut Heri, salah satu kendala pembangunan jembatan adalah status kawasan yang masuk hutan lindung. Padahal sekitar 20 kepala keluarga telah lama menetap di lokasi tersebut dan menggantungkan kehidupan mereka di kawasan itu.
Ia berharap pemerintah segera menemukan solusi agar masyarakat memperoleh akses yang lebih layak dan aman tanpa harus bergantung pada kereta gantung.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 021 Marangkayu, Badil, mengatakan pihak sekolah memahami kondisi yang dihadapi para siswa setiap hari. Karena itu, sekolah memberikan toleransi apabila siswa terlambat akibat cuaca buruk maupun kondisi akses yang membahayakan.
“Kalau hujan deras atau kondisi sungai tidak memungkinkan, kami memberikan kebijakan kepada siswa untuk belajar secara online. Keselamatan anak-anak menjadi prioritas,” ujar Badil.
Saat ini terdapat lima unit kereta gantung di Desa Santan Ulu. Selain digunakan warga menuju kebun, fasilitas tersebut menjadi akses utama pelajar menyeberangi Sungai Santan yang memiliki lebar sekitar 40 hingga 50 meter dan dikenal sebagai habitat buaya.
Warga berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen sehingga anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan aman tanpa harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari.

