BERAU — Aksi penganiayaan dan pencurian terhadap satwa dilindungi terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Berau. Seekor penyu ditemukan dalam kondisi terluka dengan bekas sayatan senjata tajam di kaki kiri serta telur-telurnya habis diambil oleh oknum tidak bertanggung jawab di kawasan pantai Kampung Balikukup, Kecamatan Batu Putih.
Peristiwa melukai satwa langka tersebut pertama kali ditemukan oleh anggota kelompok pemantau penyu setempat saat melangsungkan patroli rutin di area pesisir. Penemuan ini memicu keprihatinan mendalam dari para penggiat konservasi lingkungan di tingkat Kabupaten Berau karena mengancam kelestarian biota laut yang dilindungi undang-undang tersebut.
Petugas Pemantau Penyu Kampung Balikukup, Suriyadi, menjelaskan bahwa penemuan penyu malang tersebut bermula saat dirinya menyusuri jejak keberadaan penyu di sepanjang garis pantai pada pagi hari.
“Di tanggal 2 Agustus itu, saya jalan patroli jam 6 pagi. Saya jalan di jalan punggung, langsung saya lihat bekas penyu naik itu,” ujar Suriyadi saat menceritakan awal mula penemuan, Jumat (7/7/2026)
Suryadi lantas mengikuti jejak tersebut hingga menuju tepi pantai dan mendapati seekor penyu besar yang sudah terkulai lemas di tepi air laut. Setelah diperiksa bersama ketua RT setempat, didapati bekas luka sayatan yang diduga kuat sengaja dilakukan oleh manusia.
“Setelah itu, dinaikkan. Waduh, begitu dilihat, itu sayatan itu di kaki sebelah kiri dia. Jadi kami periksa telurnya sudah tidak ada,” tutur Suriyadi.
Selain penyu yang dilukai tersebut, Suriyadi menyebutkan bahwa selama dua bulan terakhir intensitas penyu naik untuk bertelur di wilayah Balikukup cukup tinggi, namun ancaman dari oknum pemburu liar masih terus membayangi kawasan tersebut.
“Selama kami menjalankan tugas, ada kontrak dari YSR Penyu Nusantara ini, sudah dua bulan lebih kami kerja. Barusan juga terjadi ini, di dalam dua bulan lebih itu ada lima penyu yang naik bertelur,” tambah Suriyadi.
Pihak pemantau lapangan mengaku terkendala sarana dan prasarana penunjang seperti armada perahu cepat speedboat untuk mengantisipasi aksi pencurian telur maupun pemburuan penyu oleh nelayan luar. Mereka berharap ada perhatian khusus serta dukungan penindakan dari bupati Kabupaten Berau.
Menanggapi insiden penjelajahan dan penganiayaan satwa tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan setempat langsung melakukan koordinasi lintas instansi guna menindaklanjuti laporan lapangan dari warga dan pemantau.
Kepala UPTD KKP3K KDPS Berau, Didik Riyanto, membenarkan adanya laporan kejadian penganiayaan penyu tersebut dan mengaku langsung berkoordinasi dengan pihak pengawas perikanan.
“Jadi saya dapat informasi itu, Minggu itu pun setelah dapat kabar itu, saya langsung koordinasi dengan PSDKP Tarakan, PSDKP Provinsi Kaltim,” ungkap Didik Riyanto.
Didik menyampaikan bahwa kendala anggaran efisiensi menjadi salah satu hambatan dalam melakukan patroli berkala di pulau-pulau terluar. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berencana menggandeng organisasi non pemerintah guna melakukan kunjungan lapangan dan sosialisasi pencegahan.
“Dari Dinas kami, kebetulan kami yang sebagai kepanjangan tangan Dinas Provinsi, kendalanya di anggaran efisiensi ini kan pesan jauh. Makanya saya libatkan teman-teman NGO yang mungkin bisa memberikan kontribusi dukungan pembiayaan,” jelas Didik, Jumat (7/7/2026)
Keberadaan penyu di Kabupaten Berau merupakan salah satu ikon daerah yang keberadaannya sangat dijaga. Ditambah lagi, tingkat kelangsungan hidup anak penyu hingga tumbuh dewasa sangatlah rendah secara statistik biologis.
“Satu dibanding seribu penyu yang bisa bertahan sampai dewasa. Kami berharap insidaen seperti ini tidak terjadi lagi karena penyu adalah ikon Kabupaten Berau yang harus kita jaga bersama,” tegas Didik.
Pemerintah Daerah melalui UPTD KKP3K mengimbau seluruh lapisan masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesadaran konservasi serta berhenti memperjualbelikan telur maupun bagian tubuh penyu demi melestarikan biota laut dilindungi di perairan Berau.

