TANJUNG REDEB — Perumda Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau masih menghadapi pekerjaan besar dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Di tengah tuntutan peningkatan pelayanan air bersih, pendapatan dari tarif pelanggan hingga kini belum sepenuhnya mampu menutup biaya produksi air.
Berdasarkan laporan tahunan Perumda Air Minum Batiwakkal Tahun 2025, rata-rata harga jual air kepada pelanggan tercatat sebesar Rp4.969,57 per meter kubik. Angka tersebut masih berada di bawah biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp5.257,12 per meter kubik.
Dengan kondisi tersebut, terdapat selisih sekitar Rp287,55 per meter kubik. Artinya, setiap meter kubik air yang diproduksi masih membutuhkan dukungan biaya lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima perusahaan dari tarif pelanggan.
Manajemen Perumda Batiwakkal menyebut, kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur tarif saat ini belum sepenuhnya memenuhi konsep full cost recovery (FCR) atau kemampuan tarif untuk menutup seluruh biaya penyediaan air bersih.
Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman, sebelumnya menegaskan bahwa persoalan tarif tidak hanya berkaitan dengan pendapatan perusahaan, tetapi juga keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat.
“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar soal tarif, tetapi bagaimana kualitas air, kualitas pelayanan, dan kualitas hidup masyarakat tetap terjaga,” ujar Saipul.
Ia menjelaskan, biaya operasional perusahaan terus bergerak mengikuti kebutuhan pelayanan, mulai dari proses produksi, perawatan jaringan, penggunaan energi, hingga peningkatan kapasitas layanan bagi pelanggan.
Meski demikian, Perumda Batiwakkal mencatat adanya perbaikan dari sisi efisiensi. HPP air pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, biaya produksi tercatat sebesar Rp5.357,42 per meter kubik, kemudian turun menjadi Rp5.257,12 per meter kubik pada 2025.
Penurunan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh langkah efisiensi dalam proses produksi, termasuk pengendalian penggunaan bahan kimia untuk pengolahan air.
Namun, penurunan biaya produksi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan keuangan. Sebab, rata-rata tarif air yang diterima perusahaan juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2024, harga jual rata-rata air berada di angka Rp4.998,82 per meter kubik, sedangkan pada 2025 turun menjadi Rp4.969,57 per meter kubik.
Saipul Rahman menyampaikan, perusahaan terus berupaya mencari keseimbangan antara kebutuhan operasional dengan kemampuan masyarakat sebagai pelanggan.
“Kami tetap mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Efisiensi terus dilakukan, tetapi perusahaan juga harus sehat agar pelayanan bisa berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, keberlanjutan Perumda tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga kualitas produksi, memperbaiki jaringan, mengurangi tingkat kehilangan air, serta memperluas akses layanan.
Ke depan, Perumda Batiwakkal akan terus mengoptimalkan berbagai langkah, mulai dari efisiensi biaya hingga penguatan sumber pendapatan. Penyesuaian kebijakan tarif menjadi salah satu opsi yang terus dikaji agar operasional perusahaan dapat berjalan lebih sehat tanpa mengabaikan kemampuan pelanggan.
Dengan kondisi tarif yang masih berada di bawah biaya produksi, tantangan terbesar Perumda Batiwakkal adalah menemukan titik keseimbangan: menjaga perusahaan tetap berkelanjutan, sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih yang layak.

