TANJUNG SELOR – Pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Kayan II, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, belum juga tertangani secara optimal.
Kondisi ini memaksa kapal menggunakan satu jalur untuk kedatangan dan keberangkatan, sehingga memicu keterlambatan, mengganggu kenyamanan penumpang, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran.
Ironisnya, persoalan yang menjadi keluhan operator speedboat dan penumpang ini belum menemukan solusi konkret, meski telah dikomunikasikan kepada instansi terkait sejak beberapa bulan terakhir.
Hingga Oktober, penanganan yang diharapkan belum terealisasi, sementara aktivitas penyeberangan di pelabuhan tersebut terus berjalan.
Pelabuhan Kayan II merupakan salah satu akses transportasi penting yang menghubungkan Tanjung Selor – Tarakan, Karena itu pendangkalan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan masalah yang berdampak langsung terhadap kelancaran mobilitas masyarakat.
Salah satu pemilik speedboat rute Tanjung Selor–Tarakan, Bayu Singal, mengatakan pendangkalan membuat jalur kedatangan dan keberangkatan harus menggunakan area yang sama. Akibatnya, aktivitas kapal menjadi lebih padat dan jadwal keberangkatan kerap mengalami keterlambatan.
“Yang biasanya berangkat pukul 10.00 WITA, malah mundur 10–15 menit. Sementara kami melayani keberangkatan setiap 25 menit sekali. Kalau kapal yang datang masih menunggu, aktivitas di pelabuhan semakin sibuk. Kami khawatir terhadap keselamatan penumpang,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Kayan II, Rabu (21/10).
Menurut Bayu, kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera dari pemerintah, terutama menjelang libur akhir tahun ketika frekuensi perjalanan diperkirakan meningkat. Ia menilai penggunaan satu jalur secara bersamaan untuk kedatangan dan keberangkatan berpotensi menimbulkan penumpukan kapal apabila tidak diantisipasi.
Bayu mengungkapkan, pihaknya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Tanjung Selor. Informasi yang diterimanya, UPP juga telah menyurati Dinas Perhubungan untuk membahas penanganan pendangkalan.
“Kami sudah menyurati UPP Tanjung Selor dan mereka juga sudah menyurati Dishub. Sekarang yang kami tunggu adalah bagaimana penanganannya. Kalau hanya mengandalkan satu ponton untuk keberangkatan, jalurnya akan semakin sibuk, apalagi menjelang akhir tahun,” kata Bayu yang juga menjabat Sekretaris Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Bulungan.
Ia menilai penambahan ponton dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurai kepadatan. Namun, menurutnya, langkah tersebut perlu diikuti penanganan pendangkalan agar persoalan tidak terus berulang.
Sebelumnya, upaya pemasangan ponton telah menjadi bagian dari pembahasan yang disampaikan kepada daerah Bulungan. Bayu menyambut baik rencana tersebut, tetapi menegaskan bahwa kepastian waktu dan langkah penanganan menjadi hal yang paling dibutuhkan operator.
“Intensitas perjalanan pada akhir tahun harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap ada solusi cepat dari pemerintah, bukan hanya rencana,” tegasnya.
Disisi lain, Kepala Pos Kesyahbandaran Pelabuhan Kayan II Tanjung Selor, Asis Maming. Ia membenarkan bahwa pendangkalan telah mengganggu pengaturan kedatangan dan keberangkatan kapal.
Menurut Asis, pendangkalan pada jalur kedatangan membuat kapal terpaksa bergeser dan bersandar di jalur keberangkatan. Situasi ini berdampak pada waktu sandar dan memicu keterlambatan pelayanan.
“Pendangkalan ini memang harus diatasi. Kami sudah mengomunikasikan persoalan ini kepada Dinas Perhubungan, tetapi belum ada titik temu. Kami tentunya tetap melakukan pengawasan pelayaran demi keamanan dan kenyamanan penumpang,” ujarnya.
Asis mengatakan, pihaknya juga telah menampung keluhan masyarakat terkait keterlambatan kedatangan maupun keberangkatan. Bahkan, sebagai petugas yang terkadang turut menggunakan transportasi laut, ia mengaku merasakan langsung dampak kondisi tersebut.
Ia mencontohkan, waktu sandar kapal bisa bertambah sekitar 15 menit. Meski terlihat singkat, keterlambatan tersebut dapat memengaruhi jadwal perjalanan berikutnya, terutama ketika frekuensi keberangkatan cukup rapat.
Asis menilai penambahan ponton akan membantu mengurangi penumpukan kapal. Meski aktivitas pelayaran saat ini masih berjalan, kondisi tersebut belum menjamin kelancaran ketika jumlah penumpang dan frekuensi perjalanan meningkat pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Keluhan saat bersandar itu ada. Saya sendiri juga merasakannya ketika menjadi penumpang menuju Tarakan. Untuk tiba tepat waktu mungkin masih bisa, tetapi proses bersandarnya cukup lama. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus, harus ada perubahan,” katanya.
Sementara itu, Bupati Bulungan Syarwani sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah membahas upaya mengantisipasi kepadatan di Pelabuhan Kayan II. Salah satu rencana yang disiapkan ialah penambahan ponton baru dengan akses khusus kedatangan.
“Ponton ditambahkan agak ke tengah di jalur kedatangan, itu nanti kita gandeng dengan ponton yang ada. Insyaallah tahun 2027,” ungkap Syarwani.
Pernyataan orang nomor satu di Kaltara itu menunjukkan jika pada 2026 ini belum ada penanganan terhadap pendangkalan dipelabuhan kayan II Padahal, persoalan pendangkalan dan penggunaan satu jalur sudah berdampak terhadap pelayanan penyeberangan.
Lalu saat ditanya mengenai antisipasi menjelang akhir tahun, Syarwani menyatakan pemerintah akan melakukan mitigasi, termasuk mengatur jadwal kedatangan dan keberangkatan apabila frekuensi perjalanan meningkat.
“Tentu kita mengalihkan penjadwalan kedatangan dan keberangkatan. Sekalipun tahun ini pontonnya belum ditambah, jika mobilitas cukup tinggi, frekuensi kedatangan dan keberangkatan armada Kayan II akan diatur,”pungkasnya.(Lia)

