BERAU, IT-NEWS.ID – Dugaan belum adanya penyelesaian atas penggusuran kebun sawit milik warga oleh PT Tanjung Redeb Hutani (TRH) Seorang warga Gurimbang, Heri, mendatangi Kantor Bupati Berau sambil menyampaikan permintaan bantuan karena mengaku kehilangan mata pencaharian setelah lahannya diduga digusur.

Dalam video yang beredar, Heri mengaku kini tidak memiliki penghasilan, sementara anaknya sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengatakan kondisi ekonomi keluarganya semakin terpuruk sejak kebun sawit yang menjadi sumber penghidupannya diduga digusur tanpa adanya penyelesaian ganti rugi.

“Ohai Pak Salman, kami ada di kantor bupati sekarang. Nih, mau minta duit, kami mau minta duit. Kami di rumah sakit, anakku terbaring di rumah sakit. Saya nggak punya duit. Lebih baik kami minta daripada mencuri. Kalau masih ada jalannya, tapi kalau sudah tidak ada jalan lain nanti pasti kami mencuri. Minta maaf,” ucap Heri dalam video tersebut, Jumat (05/07/2026).

Sebelumnya kepada IT-NEWS.ID, Heri mengaku kebun sawit miliknya di kawasan Gurimbang KM 26, jalan poros Suaran melalui Gunung Kasiran, diduga digusur oleh PT TRH tanpa pemberitahuan maupun ganti rugi.

“Sawit ku yang sudah digusur oleh PT TRH sebab aku sekarang jadi pengangguran anakku pun udah nggak sekolah lagi gara-gara duit sudah lagi pun anakku ada di rumah sakit sekarang baru uang pun nggak punya” ungkapnya

Ia mengaku telah bertemu langsung dengan Bupati Berau dan mendapat janji untuk membantu.

“Kami kan ketemu sama Bupati Berau. Dia bilang, ‘Oke Pak, dibayar itu, tapi harus nunggu dulu.’ Tapi sampai sekarang tidak ada. Kami tidak terlalu banyak minta. Yang kami minta itu modal kami saja yang masuk di situ. Harga beli tanah sekitar Rp74 juta, belum termasuk biaya perawatan. Kami minta itu saja,” katanya.

Selain menemui Bupati, Heri mengaku juga sempat mendatangi DPRD Berau ldengan harapan persoalan tersebut dapat difasilitasi. Namun, ia mengaku belum mendapatkan hasil yang diharapkan karena tidak sempat bertemu dengan anggota dewan yang dituju.

“Tanggal itu kami turun ke dewan. Katanya pengurusku dewan yang urus, tapi kami datang dari jam sembilan sampai jam dua siang. Kami kelaparan di situ, banyak orang pulang, tapi tidak ada jawaban apa-apa, tidak ditemui,” tutupnya.